Menembus Pasar Jepang: Bagaimana Kopi Tujuhenam Membuktikan Pesantren Mampu Berdaya dan Berekspor

PERSISTAROGONG.COM, GARUT โ€“ Ekspor komoditas ke pasar internasional kerap identik dengan perusahaan korporasi besar. Namun, Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) Tarogong melalui unit usaha pengembangannya, Kopi Tujuhenam, berhasil mematahkan stigma tersebut. Ekspor produk kopi karya santri dan pengelola pesantren ke mancanegara bukan lagi sekadar wacana, melainkan fakta yang terus berkembang pesat.

Pada 6 hingga 9 Juli 2026, Kopi Tujuhenam menjadi salah satu destinasi utama dalam rangkaian program “Coffee Origin Trip to Indonesia”. Rangkaian trip selama empat hari ini dipimpin oleh Typica, perusahaan perdagangan kopi asal Jepang yang berfokus mempertemukan produsen kopi lokal dengan konsumen global.

Dalam kunjungan tersebut, sebanyak enam tamu dari Jepangโ€”terdiri dari dua perwakilan Typica serta empat pengusaha dan roaster terkemukaโ€”hadir langsung ke Garut. Keempat coffee shop tersebut adalah: Kurasu (Kyoto), Nichi Nichi Coffee (Fukushima), Soyogo Coffee (Nagakute) dan Kitahama Port Roasters (Osaka)

Selain menyambangi Kopi Tujuhenam di Garut (kebun Sindangpalay), rombongan Origin Trip ini juga mengunjungi perkebunan mitra lainnya di Jawa Barat, yaitu Java Frinsa Estate (Pangalengan & Ciwidey) serta Kopi Bunar (Tasikmalaya).

Tujuan utama dari farm tour ini adalah memastikan prinsip keterbukaan (transparency) dan keterlacakan (traceability) dalam rantai pasok kopi spesialti. Para roaster Jepang ingin melihat langsung proses produksi, kualitas varietas, hingga sosok pengelola di balik layar.

Tak hanya diajak menjelajahi kebun kopi di Sindangpalay, para tamu juga diajak mengelilingi kompleks Pesantren PERSIS Tarogong. Langkah ini diambil untuk mengenalkan bahwa kopi yang mereka beli berasal dari institusi yang fokus utamanya adalah lembaga pendidikan Islam.

Di Jepang, narasi keberlanjutan dan dampak sosial (social impact) seperti ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Para pembeli merasa bangga karena keuntungan (profit) dari perdagangan kopi ini pada akhirnya dialokasikan kembali untuk mendukung operasional dan pengembangan pendidikan para santri.

Kepercayaan pasar Jepang terhadap Kopi Tujuhenam terbukti nyata dari peningkatan volume permintaan. Jika pada tahun 2025 Kopi Tujuhenam mengekspor sebanyak 330 kg kopi, maka pada tahun 2026 ini komitmen ekspor melonjak hampir dua kali lipat menjadi 600 kg. Rencananya, jadwal pengiriman ekspor ini akan dilakukan pada periode September โ€“ Oktober 2026.

“Kerja sama dan kunjungan langsung dari para roaster Jepang ini bukan sekadar urusan jual-beli komoditas, melainkan bentuk kepercayaan terhadap tata kelola dan kualitas kopi yang kami kembangkan. Kami ingin menunjukkan bahwa pesantren mampu mengelola aset secara profesional dan berdaya saing di pasar internasional, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar dan kemandirian institusi,” tegas Bakti Islam, pengelola Kopi Tujuhenam.

Keberhasilan Kopi Tujuhenam membuktikan bahwa ekspor produk pesantren ke mancanegara adalah hal yang sangat memungkinkan untuk dicapai. Dengan menjaga kualitas produk secara konsisten, mengusung tata kelola yang transparan, serta mengemas nilai sosial-pendidikan sebagai identitas, pesantren mampu berdiri mandiri secara ekonomi dan berkiprah di kancah global.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *