Perpustakaan MTs Persis Tarogong Gelar Lokakarya Sastra Santri 2026: Latih Keterampilan Menulis Cerpen Terstruktur
PERSISTAROGONG.COM – Perpustakaan MTs. Persis Tarogong menggelar kegiatan kepenulisan bertajuk Lokakarya Sastra Santri 2026 pada Kamis, 24 September 2026. Bertempat di Aula Syihabuddin, kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme mulai pukul 07.00 hingga 11.30 WIB. Program ini diselenggarakan sebagai langkah nyata dalam meningkatkan budaya literasi serta keterampilan menulis karya fiksi di kalangan para santri.
Acara ini menghadirkan pemateri berpengalaman di bidang pendidikan dan literasi, Listia Ningrum, M.Pd.. Sebanyak puluhan peserta hadir memadati ruangan, terdiri dari dua orang perwakilan siswa dari setiap kelas serta jajaran Staf Pustakawan Santri.
Dalam penyampaian materinya, Listia Ningrum, M.Pd. menekankan pentingnya keberanian para santri dalam menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan yang terstruktur.

“Menulis cerita pendek sebenarnya tidak rumit jika kita memiliki kerangka berpikir yang jelas. Kunci utama bagi penulis pemula adalah fokus pada alur dasar dan tidak terlalu cemas memikirkan hambatan di awal,” ujar Listia di hadapan para peserta.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah praktik merangkai cerita secara efektif. Pemateri memberikan tantangan menulis cerpen bagi para santri dengan alokasi waktu selama 10 menit. Untuk membantu peserta menyusun ide secara lancar tanpa mengalami kemacetan alur (writer’s block), Listia membagikan formula penulisan sistematis yang terbagi ke dalam empat paragraf utama:
Paragraf Pertama: Ditujukan khusus untuk pengenalan tokoh cerita serta karakter dasar yang melandasi narasi.
Paragraf Kedua: Berisi pembukaan masalah atau kemunculan konflik awal yang mulai menguji tokoh utama.
Paragraf Ketiga: Berfokus pada pembahasan serta perkembangan konflik hingga mencapai dinamika puncak cerita.
Paragraf Keempat: Menjadi penutup cerita yang menggambarkan perubahan kondisi tokoh serta penyelesaian masalah (resolusi).
“Melalui formula empat paragraf ini, santri diajak merangkai cerita yang padat, terarah, dan tetap memiliki keutuhan alur. Kami berharap skema sederhana ini dapat menjadi pemantik agar para santri semakin percaya diri dalam berkarya,” tambah Listia.
Para santri terlihat sangat fokus dan tekun saat mempraktikkan metode penulisan tersebut secara mandiri. Dalam alokasi waktu yang terbatas, mereka berhasil menghasilkan karya cerita pendek yang runtut dan menarik. Melalui kegiatan ini, Perpustakaan Aminah Dahlan berharap dapat terus melahirkan generasi santri yang aktif dan mahir berkarya lewat tulisan. [Triana]
