Kebijakan “Merdeka Belajar” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Kebijakan “Merdeka Belajar” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Fauzan Zaidan
X-IPA 2

PENDAHULUAN
Pada 17 Agustus 2020, menandai 75 (Tujuh Puluh Lima) tahun kemerdakaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemerdekaan NKRI tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pahlawan di berbagai bidang, salah satunya adalah melalui bidang Pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, Ahmad Dahlan, dan Moh. Syafei dijadikan simbol perjuangan pendidikan pada masa penjajahan. Tujuan pendidikan ketiga tokoh tersebut terlihat lebih pragmatik, yaitu untuk melawan penjajahan dengan tujuan kemerdekaan Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara bergerak secara pragmatik dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada 3 juli 1922. Perguruan Nasional Taman Siswa menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Ki Hadjar Dewantara merupakan pencetus semboyan pendidikan yang sekarang kita gunakan; ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (didepan menjadi teladan, ditengah membangun semangat, dari belakang mendukung dan mengawasi.
Konsepsi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara tidak dapat dilepaskan dari cara pandangnya dalam memahami fenomena dalam masyarakat. Refleksi masyarakat Indonesia menurutnya adalah masyarakat yang mempunyai jiwa terjajah yang kehilangan ruh kemerdekaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Hal ini dipengaruhi oleh kolaborasi sistem masyarakat yang feodal dan kolonialisme. Ki Hadjar Dewantara mengkritik proses pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda.

 

Proses pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda saat itu hanya mengedepankan intelektualisme. Sehingga pendidikan saat itu hanya menghasilkan pekerja murah bagi pabrik-pabrik milik Belanda. Proses pendidikan pada saat itu tidak bertujuan untuk menyadarkan siswa terhadap realitas sosial yang ada disekitarnya.
Pola pendidikan yang hanya mengedepankan penilaian terhadap intelektualisme pelajar selain menggambarkan Pendidikan pada masyarakat feudal dan kolonialisme juga tidak sesuai dengan perkembangan industri yang ada saat ini. Pada saat ini perkembangan Industri berada pada tahap Era Revolusi Industri 4.0 yang memiliki beberapa kekhasan diantaranya:
Penggunaan Media Digital,
Komputerisasi,
Analisa Big Data,
Artificial Intelegency (A.I)

Dalam upaya menghadapi tantangan dari Era Revolusi Industri 4.0 perlu dilakukannya upaya penyesuaian pola pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Menanggapi problematika tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiam Anwar Makarim berencana merubah pola Pendidikan Indonesia melalui wacana kebijakan “Merdeka Belajar” yang salah satu tujuannya adalah untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa “Apapun kompleksitas masa depan, kalau SDM kita bisa menangani kompleksitas maka itu tidak menjadi masalah”. Pola pendidikan yang ada harus diarahkan dalam upaya untuk membentuk SDM yang siap untuk berkompetisi di era globalisasi. Hal tersebut, mengingat bangsa saat ini Indonesia dihadapkan pada munculnya era revolusi industri 4.0.

Terdapat 4 (empat) pokok kebijakan “Merdeka Belajar” tersebut:
USBN menjadi asesmen oleh sekolah menilai kompetensi siswa, melalui tes tertulis dan bentuk penilaian lain yang komprehensif. Guru dan sekolah lebih merdeka dalam menilai hasil belajar siswa. Anggaran USBN dialihkan untuk pengembangan kapasitas guru dan sekolah.
UN diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum & Survei Karakter yang tidak mengukur penguasaan materi mata pelajaran dalam kurikulum seperti yang diukur melalui UN selama ini. UN ke depan dilakukan untuk pemetaan kompetensi minimum literasi & numerasi siswa, dan memperkuat aplikasi pembelajaran yang diukur oleh PISA dan TIMSS. Dilakukan di tengah jenjang sekolah (kelas 4, 8, 11).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mana guru bebas memilih, membuat, mengembangkan, dan menggunakan format RPP atas prakarsa dan inovasi sendiri. RPP dipersingkat yang berisi tujuan, kegiatan dan asesmen pembelajaran. Penulisan RPP efisien dan efektif agar guru punya waktu untuk menyiapkan dan evaluasi proses pembelajaran secara terarah
Sistem Zonasi PPDB dilaksanakan secara fleksibel mengatasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Ada patokan standar PPDB antar-daerah, yaitu: jalur zonasi menerima siswa minimal 50%, jalur afirmasi minimal 15%, jalur perpindahan maksimal 5%, dan jalur prestasi atau sisa 0-30%, sesuai dengan kondisi daerah. “Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi.

Maka dari itu wacana “Merdeka Belajar” yang digagaskan oleh Menteri Pendidikan dan Budaya tersebut perlu diarahkan agar menciptakan SDM yang kompetitif, sehingga mampu memanfaatkan bonus demografi yang merupakan kesempatan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Berdasarkan uraian di atas maka Penulis menilai perlunya membahas mengenai” Kebijakan “Merdeka Belajar” Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0”.

PEMBAHASAN
Pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan SDM usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk kaitannya dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja. Maka dari itu wacana “Merdeka Belajar” diharapkan menjadi solusi bagi permasalahan kualitas SDM yang ada.

Empat pokok kebijakan baru yang tertuang dalam gagasan “Merdeka Belajar” pada hakikatnya merupakan upaya untuk menciptakan sistem & budaya pembelajaran dan pengajaran yang lebih efektif, pro-aktif, kreatif, inovatif, mandiri, konktekstual dan emansipatoris, serta senafas dan sebangun dengan perubahan global di dunia pendidikan yang saat ini bertema Education 4.0. Sehingga untuk mencapai orientasi tersebut, Kemendikbud merasa perlu untuk memangkas hal-hal yang bersifat prosedural dan administratif yang dinilai menghambat efektivitas dan esensi pembelajaran. Dalam hal ini, para guru sepatutnya memberikan apresiasi terhadap kebijakan baru ini. Adapun Education 4.0 tersebut menekankan pada Fleksibilitas dan kreativitas, lintas bidang secara jarak jauh (Tele Learning).

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu kebijakan pokok dari wacana “Merdeka Belajar” adalah melalui adanya penghapusan UN dan mengubahnya menjadi “Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter” yang dilakukan melalui pemetaan kompetensi minimum literasi (kemampuan bernalar tentang dan menggunakan Bahasa) & numerasi (kemampuan bernalar menggunakan matematika) siswa.
Pemanfaatan Big Data dalam Era Revolusi Industri 4.0 memegang peran yang sangat strategis. Maka dari itu, dalam era industry 4.0 siswa diharapkan memiliki kemampuan literasi data yang merupakan kemampuan untuk (Big Data) di dunia digital.

 

Melalui adanya perkembangan teknologi telah mengakibatkan mudahnya seseorang untuk mengakses informasi mengenai suatu hal. Saat ini, proses belajar tidak lagi hanya sebatas dari individu lain yang lebih berpengetahuan ataupun dari buku-buku cetak. Proses belajar saat ini sudah bisa melalui berbagai sumber dan media, salah satunya dengan memanfaatkan sumber belajar berteknologi, seperti web, youtube, e-book, bahkan video conference. Maka dari itu dibandingkan kemampuan untuk menguasai atau menghafal suatu teori dan konsep yang masih sering digunakan sekarang ini, kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi merupakan bagian yang lebih untuk dikembangkan dalam sistem Pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut maka idealnya sistem yang diterapkan dalam Pendidikan adalah berupa student center learning. Kemerdekaan belajar siswa di sekolah tidak mengenal adanya belajar secara teacher center, merdeka belajar labih menekankan adanya student center. Ki Hadjar Dewantara dalam praktik pendidikannya di Taman Siswa membahas pendidikan sebagai sebuah proses memerdekakan. Proses memerdekakan ini dimaknai sebagai sesuatu yang eksistensial dan resistensial. Proses memerdekakan manusia menurut Ki Hadjar Dewantara dimaknai sebagai kebebasan yang bersifat eksistensial. Ada tiga poin yang dapat diambil dari tujuan pendidikan sebagai alat memerdekakan siswa yaitu, berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri. Selain itu proses memerdekakan manusia oleh Ki Hadjar dimaknai sebagai kebebasan yang bersifat rensistensial. Konsepsi ini dikonstruksikan ketika Ki Hadjar Dewantara sedang dikungkung oleh kolonialisme. Hadjar Dewantara pernah mengkritik proses pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda. Proses pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda saat itu hanya mengedepankan intelektualisme. Sehingga pendidikan saat itu hanya menghasilkan pekerja murah bagi pabrik-pabrik milik Belanda. Proses pendidikan pada saat itu tidak bertujuan untuk menyadarkan siswa terhadap realitas sosial yang ada disekitarnya. Kemudian Ki Hadjar Dewantara memanifestasikan pendidikan yang memerdekakan siswa dalam Taman Siswa dengan menanamkan nilai-nilai nasionalisme sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Kebebasan ini dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang berkuasa.

Proses belajar siswa tidak lagi berpusat pada guru sebagai sumber utama belajar melainkan mengutamakan pada keberadaan siswa. Guru diharapkan dapat bertindak sebagai fasilitator atau pengawas saat siswanya sedang melakukan proses pembelajaran. Guru hanya mempersiapkan segala kebutuhan siswanya. Peran guru sebagai pendamping memungkinkan guru untuk memberikan masukan dan arahan kepada siswa saat mengalami kesulitan ataupun kebutuhan. Selain itu, pemanfaatan media digital menjadi hal yang penting dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas siswa sebagai SDM yang akan menghapi tantangan Era Revolusi Industri 4.0. Guru diharapkan mampu memanfaatkan media seperti video conference (zoom meeting, google meet, microsoft team, dan lain-lain), Google Form, dan lain sebagainya. Pemanfaatan media digital tersebut tetap harus memperhatikan kesiapan sarana dan prasarana siswa dalam menggunakannya. Guru, pihak sekolah, Pemerintah dan pemangku kepentingan lain diharapkan mampu memanfaatkan situasi Pandemi Covid-19 yang memaksa untuk dilakukan pembelajaran jarak jauh sebagai akibat dilaksanakannya Physical distancing menjadi suatu sarana untuk menilai kesanggupan dan mengevaluasi pemanfaatan media digital dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan kebijakan “Merdeka Belajar” tersebut tentunya tidak lepas dari berbagai permasalahan salah satunya adalah mengenai kesiapan guru dalam melaksanakan kebijakan “Merdeka Belajar”. Maka dari itu perlu adanya pelatihan terhadap kemampuan dan kualitas guru sebagai profesi yang professional seingga mampu melaksanakan kebijakan “Merdeka Belajar” sesuai dengan tujuannya.

PENUTUP
SIMPULAN
Kebijakan “Merdeka belajar” sebagai wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan suatu upaya dalam rangka menyiapkan SDM yang berkualitas dalam menghapi tantangan Era Revolusi Industri 4.0. Empat pokok kebijakan baru yang tertuang dalam gagasan “Merdeka Belajar” pada hakikatnya merupakan upaya untuk menciptakan sistem & budaya pembelajaran dan pengajaran yang lebih efektif, pro-aktif, kreatif, inovatif, mandiri, konktekstual dan emansipatoris, serta senafas dan sebangun dengan perubahan global di dunia pendidikan yang saat ini bertema Education 4.0. Adapun Education 4.0 tersebut menekankan pada Fleksibilitas dan kreativitas, lintas bidang secara jarak jauh (Tele Learning). Maka dari itu, dalam melaksanakan proses belajar-mengajar guru diharapkan mampu memanfaatkan media seperti video conference (zoom meeting, google meet, microsoft team, dan lain-lain), Google Form, dan lain sebagainya.

SARAN
Perlu adanya pembahasan lebih mendalam mengenai pengimplementasian kebijakan “Merdeka Belajar” sebagai upaya menyiapkan SDM dalam Era Revolusi Industri 4.0 tersebut sehingga sesuai dengan keadaan Masyarakat Indonesia saat ini.

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X