berita

Inovasi Sistem Pendidikan Pesantren Persis Tarogong

Inovasi Sistem Pendidikan Pesantren Persis Tarogong

Oleh :
Ihsan Kamaludin

Guru Sosiologi MA Persis Tarogong

Pendahuluan
Di Indonesia, perkembangan pendidikan sebagian besar dipengaruhi oleh adanya organisasi masyarakat. Hal ini disebabkan karena ormas tersebut banyak mendirikan lembaga pendidikan, seperti yang dilakukan oleh organisasi Persatuan Islam yang memiliki cabang Pesantren di berbagai daerah di Jawa Barat. Pesantren Persis Tarogong menjadi fokus penelitian ini dikarenakan ia mampu menjadi ikon dan Pesantren terbaik di Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali strategi pengembangan kurikulum dan metode dakwahnya. Penelitian ini menggunakan metode kualiatif deskriptif yang diharapkan mampu untuk menganalisa permasalahan tersebut secara mendalam. Peraturan dan inovasi pembelajaran berbasis metode praktik yang berbeda dengan Pesantren lain merupakan hasil dari penelitian. Persis Tarogong pun berusaha untuk memadukan antara pembelajaran khas Pesantren dengan kurikulum pemerintah disertai dengan program pengabdian sosial yang dilakukan oleh santri agar mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Organisasi Persatuan Islam didirikan pada 12 September 1923 di Kota Bandung. Pada awalnya perkumpulan masyarakat yang ingin mengembalikan diri pada nilai-nilai keislaman murni yaitu yang terbebas dari unsur budaya. Para anggotanya berharap bahwa setiap hal-hal yang bercampur dengan unsur budaya seperti bid’ah (ibadah yang baru dibuat setelah nabi wafat) dan tahayul (adanya kekuatan selain dari Allah). Penyebaran paham keagamaan yang dilakukan oleh organisasi Persatuan Islam diawali dengan cara melakukan pidato keagamaan ke berbagai masjid dan tempat-tempat umum lainnya. Selanjutnya Persis pun mendirikan Pesantren ke berbagai wilayah termasuk di kabupaten Garut. Pada awalnya, Pesantren Persis Bentar (kadang disebut Pesantren Persatuan Islam 19 atau PPI 19) merupakan Pesantren pertama yang didirikan oleh Persis. Pesantren ini sekaligus menjadi basis penyebaran paham keagamaan Persis di Kabupaten Garut.

Perlahan-lahan masyarakat yang menolak keberadaan dari paham keagamaan Persatuan Islam menjadi tertarik dengan sistem pengajaran Pesantren. Maka dari itu, Setelah Persis Bentar tidak lagi mampu untuk menampung seluruh peserta didik, akhirnya pada tahun 1970-an dibangunlah Pesantren kedua yang disebut Persis Rancabogo (PPI no. 76). Pada awalnya, kemunculan Pesantren Persis Rancabango hanyalah sebatas sekolah yang menampung calon santri yang tidak mampu diterima oleh Persis Bentar.

Namun selanjutnya, sekolah Rancabogo menjadi sekolah mandiri dengan melakukan berbagai terobosan kurikulum maupun sosial. Langkah-langkah yang dilakukan oleh PPI 76 tersebut menjadi awal perubah stigma masyarakat dan bahkan saat ini Persis Rancabogo menjadi salah satu sekolah rujukan atau sekolah percontohan di Kabupaten Garut menurut Kementerian Agama. Saat ini, Pesantren Rancabogo sering melakukan kerja sama dengan berbagai instansi luar guna meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang mereka berikan.

Salah satu pencapaian yang saat ini baru didapatkan oleh rancabogo adalah Madrasah Aliyah dengan akreditasi terbaik di Provinsi Jawa Barat. Hal ini mematahkan anggapan masyarakat bahwa sekolah Persis tidak mampu bersaing dengan sekolah lainnya karena Persis sering kali dianggap sebagai organisasi masyarakat yang sulit untuk menjadi unggul karena relatif mempertahankan cara-cara asli. Anggapan ini sebenarnya berawal karena Persis selalu berusaha untuk mengembalikan suatu nilai kepada hal-hal yang dicontohkan oleh Rasul dan menolak segala hal yang mampu memengaruhi unsur keagamaan walaupun itu berasal dari kebudayaan.

Di Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk mengungkapkan kontribusi akademik dan sosial yang telah dilakukan oleh Pesantren Persatuan Islam Tarogong di Kabupaten Garut. Topik ini diangkat karena kebanyakan jurnal dan karya ilmiah sering kali hanya membahas organisasi masyarakat persatuan Islam dalam ruang lingkup keagamaan (khususnya fiqih atau cara pandang dalam peribadatan) atau organisasi (bagaimana organisasi persis berkembang di dalam masyarakat). Oleh karena itu, pembahasan ormas Persis dalam lingkup pendidikan menjadi khazanah keilmuan yang baru dan mampu memberikan pemahaman tentang bagaimana Persis pun mampu memberikan model pendidikan yang berbeda dengan pola organisasi masyarakat berbasis keagamaan lainnya.

Metode Penelitian
Penelitian ini fokus kepada metode pengajaran yang dilakukan oleh Persatuan Islam Tarogong ditinjau dari inovasi kurikulum dan kegiatan pendidikannya serta dampak sosial yang dapat diberikan oleh Pesantren kepada masyarakat. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik studi kepustakaan dan wawancara dengan konsep Robert K. Merton yang berusaha memberikan pemaparan mendalam terkait perbedaan metode pengajaran yang dilakukan oleh Persis Tarogong. Metode Merton diawali dengan melihat tujuan utama atau manifest.
Objek kajian di dalam penelitian ini merupakan kurikulum dan strategi inovasi pendidikan Persis Tarogong dalam mengembangkan sistem pendidikannya. Setelah itu, penulis berusaha untuk menganalisa implikasi sosial yang diberikan oleh Pesantren tersebut. Pencarian sumber diawali dengan penelusuran terhadap strategi Persis Tarogong hingga mewawancarai beberapa narasumber agar data yang didapatkan menjadi valid dan kredibel.

Hasil Penelitian
Penelitian ini menunjukan bahwa Pesantren Persatuan Islam Tarogong melakukan berbagai inovasi kurikulum yang dimaksudkan agar santri mampu mengaplikasikan ilmunya secara langsung. Menurut Iqbal Santoso, Pesantren dari masa ke masa mencoba untuk melakukan berbagai inovasi dalam aspek material (sesuatu yang terlihat langsung oleh masyarakat) maupun konsep kurikulum pengajaran. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat mudah mengenali santri Persis Tarogong dan juga aktifitas-aktifitas apa saja yang dilakukan oleh mereka baik di wilayah sekolah maupun wilayah luar.
Selain tempat yang berada di dalam pusat kota, daya tarik yang membuat masyarakat antusias untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Pesantren tersebut karena adanya standarisasi tenaga pendidikan, fasilitas pendidikan, hingga lulusan yang dinilai memiliki nilai lebih dibanding dengan lembaga lain. Tenaga pengajar diharuskan memiliki sertifikat tertentu juga telah mengikuti kegiatan pembekalan guru secara berkala (biasanya dilakukan setiap hari kamis bagi tingkat MTs dan Aliyah dengan kegiatan berupa upgrading atau workshop sedangkan SD dilakukan pada hari sabtu). Hal ini dimaksudkan agar setiap guru mampu meningkatkan kapasitas mengajar sesuai dengan tantangan zaman.

Selanjutnya, kurikulum menjadi suatu hal yang harus selalu diperbaharui. Menurut Iyus, sering kali Pesantren Persis melakukan komunikasi kepada kementerian agama dan pendidikan untuk memperbaharui sistem pendidikan juga melakukan diskusi terkait sistem pendidikan yang paling efektif. Hal ini dilakukan agar Persis tarogong tidak hanya sekedar menjadi pelaksana kurikulum namun juga mampu untuk memberikan masukan dan revisi agar proses pembelajaran semakin kondusif. Selain itu, Pesantren melalui guru bidang mata pelajaran tertentu, membuat modul atau bahan ajar sendiri yang diajukan kepada pemerintah agar pengkombinasian antara pelajaran agama atau kePesantrenan dan ilmu pengetahuan umum bisa saling mendukung satu sama lain.

Menurut Mardiyah, Pesantren Persis berusaha untuk memberikan layanan terbaik dengan terus menerima masukan dan mengkombinasikan seluruh metode pembelajaran agar anak merasa senang pada saat waktu belajar. Hal ini penting dilakukan agar peserta didik dari mulai lingkup Taman Kanak-kanak hingga Aliyah mampu untuk menikmati pelajaran dan diharapkan juga bisa untuk mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Keunggulan lainnya adalah guru dan santri di Persis Tarogong dituntut untuk mampu berkontribusi di dalam masyarakat seperti menjadi pengisi acara di dalam kegiatan keislaman juga sosial. Hal tersebut menurut Agus Arif Rahman terkadang membuat masyarakat menjadi tertarik untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke dalam Pesantren Persis Tarogong karena anak-anak tidak hanya diajarkan untuk memahami materi dasar di dalam lingkup sekolah namun juga mampu untuk menjadi pilar utama penyebar ajaran agama Islam.
Aan Adam juga berpendapat bahwa adanya solidaritas antar alumni mampu mempererat jaringan komunikasi antar individu agar nantinya bisa saling memberikan bantuan.

Sering kali alumni yang mengalami kecelakaan segera dibantu oleh ikatan alumni karena merasa bahwa seluruh alumni memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Alumni pun sering kali berkumpul untuk mengadakan acara-acara sosial di Pesantren Persis Tarogong tanpa dipungut biaya sedikitpun. Acara tersebut biasanya dilakukan agar santri yang saat ini sedang belajar di Pesantren mampu mendapatkan ilmu yang bermanfaat di dalam kehidupan mereka. Bahkan ada beberapa alumni yang memberikan tanah perkebunan kopi dan buah-buahan untuk dikelola oleh pihak Pesantren.

Pihak Pesantren pun sering kali meminta arahan kepada berbagai pihak seperti pemerintah maupun swasta jika ada beberapa pemberian dari alumni agar hal tersebut bisa digunakan secara maksimal. Saat ini, Pesantren mulai mencoba untuk memproduksi kopi hasil olahan mereka sendiri dan dipasarkan kepada masyarakat untuk dikonsumsi. Hasil pertanian lain pun terkadang diberikan kepada pihak yang membutuhkan agar hasil bumi tersebut mampu dinikmati oleh banyak pihak.

Pembahasan
Pesantren Persis Tarogong pada awal melakukan berbagai upaya perbaikan kurikulum yang sesuai dengan kaidah organisasi persatuan islam. Meskipun terikat kepada berbagai aturan organisasi, namun Persis Tarogong mencoba untuk melakukan berbagai percobaan dengan cara merampingkan pelajaran keagamaan yang dinilai mampu untuk dipelajari dengan waktu yang singkat dan lebih aplikatif. Biasanya, pelajaran Bahasa Arab di berbagai Pesantren Persis dipecah ke dalam beberapa nama dan fungsi tetapi Persis Tarogong mencoba untuk berkreasi membuat bahan ajar sendiri yang lebih praktis dan efisien.
Persis Tarogong juga merupakan sekolah Persis Kabupaten Garut yang pertama kali melakukan konsolidasi sistem pendidikan seperti standarisasi kurikulum pendidikan dan materi ajar ilmu pengetahuan umum. Menurut Ai Nurjannah, hal ini dilakukan agar lulusan Pesantren tidak hanya diakui secara lembaga negara namun juga memiliki wawasan keilmuan agama yang mumpuni agar mampu dimanfaatkan di dalam masyarakat muslim. Dikarenakan komitmen pihak yayasan dalam peningkatan mutu kualitas lulusan, beberapa kebijakan lain pun diambil seperti penambahan jam waktu pelajaran dan penambahan satu sektor standar pendidikan.

Jika sekolah biasa hanya memiliki delapan standar pendidikan yang mengacu kepada aturan pemerintah, Persatuan Islam mengadakan standar tambahan yaitu standar ke-Pesantrenan. Muatan yang ada di dalam standar tersebut berisi tentang mata pelajaran atau syarat dasar minimal seseorang dapat lulus dari Pesantren Persatuan Islam Tarogong. Salah satu syarat kenaikan kelas dan kelulusan tersebut adalah telah lulus dalam mata pelajaran membaca dan menghafal al-quran serta mampu membaca kitab berbahasa Arab. Hal ini menjadi standar kelulusan karena pihak Pesantren berharap kepada para santri untuk mampu menjadi pemimpin masyarakat di dalam segala aktifitas peribadatan dan sosial.

Jika dikaitkan dengan teori Merton, segala upaya dan strategi yang dilakukan oleh Pesantren Persis Tarogong merupakan suatu tujuan utama yang ingin dicapai. Tujuan Persis sendiri adalah menjadi sekolah unggulan di setiap jenjang. Oleh karena itu, Persis Tarogong memberlakukan berbagai aktifitas yang tidak dilakukan oleh sekolah lainnya.
Selain di dalam bidang akademik, pendidikan di Pesantren Persatuan Islam berusaha untuk menerapkan beberapa kegiatan sosial sebagai salah satu syarat kelulusannya. Program ini hadir didasari oleh kebiasaan para guru dan tokoh agama Persis yang sering kali membawa para santri untuk mampu berkontribusi dalam berbagai acara keislaman seperti pengajian atau syukuran. Pada awalnya, santri ditugaskan untuk memerhatikan para guru dalam menyampaikan materi keagamaan hingga mempraktikan seluruh pengetahuan agamanya agar masyarakat mampu memahami berbagai hukum Islam.

Setelah santri dinilai mampu untuk melakukan semua kegiatan keagamaan secara mandiri, biasanya mereka akan diberikan jadwal tetap untuk bisa memandu masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam bidang keagamaan. Program ini merupakan suatu budaya aktif yang berusaha menyebarkan nilai-nilai dan paham keagamaan Persis di kalangan masyarakat. Program tersebut lalu diformalkan dan dinamai program latihan khidmat jam’iyah (PLKJ) yaitu santri dituntut untuk mampu aktif mengisi pengajian atau membantu keperluan masyarakat selama dua pekan tanpa ditemani oleh ustadz (program ini biasanya dilakukan oleh santri kelas 12 sewaktu libur sekolah atau setelah ujian nasional berakhir). Tentu saja program ini bukanlah program tunggal dari pihak madrasah Aliyah namun juga sudah mulai diajarkan ketika peserta didik masih berada di dalam tingkat taman kanak-kanak. Program yang biasanya diterapkan adalah anak-anak diminta untuk belajar berpidato di depan teman dan orang tuanya. Hal ini dilakukan agar keberanian anak mulai terbentuk.

Program praktek dakwah yang dilakukan oleh santri Aliyah sendiri sering kali mendapatkan respon positif masyarakat karena dinilai baik untuk melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan orasi mereka. Masyarakat pun menilai bahwa program ini harus dikembangkan agar siswa tidak hanya belajar teori namun juga mampu berkontribusi untuk masyarakat.

Program yang dijalankan oleh santri pada hari pertama biasanya adalah silaturahmi atau perkenalan kepada masyarakat dan aparat setempat dengan mendatangi setiap tempat satu-persatu disertai dengan sosialisasi program yang akan di lakukan selama kegiatan berlangsung. Pada hari selanjutnya, peserta program mulai melakukan beberapa hal yang dibutuhkan di dalam masyarakat seperti mengisi pengajian atau imam dalam shalat serta mengajar di sekolah. Sekolah Dasar dan Menengah Pertama di wilayah program PLKJ biasanya memberikan kesempatan kepada santri untuk bisa berbagi wawasan ilmu agama islam di dalam jam pelajaran. Bahkan ada beberapa sekolah yang memberikan waktu penuh selama dua minggu pada santri untuk mengajar seluruh mata pelajaran karena santri dianggap mampu mensinergikan antara ilmu agama dan umum.

Pada saat pelaksanaan program, santri diberikan keleluasaan untuk membentuk program sesuai kebutuhan masyarakat, Pembina pun hanya datang untuk melakukan evaluasi di tengah program. Hal ini dilakukan agar para santri memiliki kemandirian dan kreatifitas untuk bisa hidup bersosial di dalam masyarakat.

Program-program lainnya yaitu santunan atau pemberian donasi bagi anak yatim atau janda berupa uang dan pakaian serta wakaf al-quran bagi masjid yang membutuhkan. Hal ini dilakukan agar masyarakat tetap mendapatkan manfaat dari program PLKJ walaupun program tersebut telah usai. Di sisi lain, pemberian donasi pun diharapkan membuat santri peserta program sadar bahwa nilai sosial dan kebersamaan harus dijunjung tinggi karena hal tersebut merupakan ajaran dasar dalam Islam khususnya landasan Ormas Persis.

Visi Misi Ormas Persis pun menjadi acuan untuk mengajak dan menyebarkan paham keagamaan Persis karena mempercayai bahwa ajaran Islam haruslah bisa merangkul dan membentuk suatu kelompok masyarakat yang sesuai dengan ajaran al-quran dan sunnah. Otonom-Otonom Persis pun melakukan kegiatan yang serupa karena meyakini bahwa ajaran Islam tidak cukup jika hanya disebarkan melalui program sekolah namun harus dilanjutkan oleh lembaga eksternal sekolah. Hal ini dilakukan agar suatu nilai yang sudah hadir di dalam masyarakat bisa dikuatkan.

Santri Persis dan otonom yang sering kali terlibat dalam aksi kemanusiaan bagi masyarakat dunia seperti Palestina dan Rohingya. Hal tersebut merupakan manifestasi sosial organisasi Persis yang bertujuan untuk membantu sesama muslim di seluruh dunia. Hal ini menjadi salah satu penarik simpati masyarakat dimana ketika masyarakat khususnya keluarga anggota dan simpatisan Persis berada dalam kesulitan, Persis hadir membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Kegiatan-kegiatan bantuan tersebut membuat masyarakat berinteraksi langsung dengan anggota Persis bahkan tokoh dan menimbulkan hubungan keterkaitan atau minimal membuat masyarakat awam lebih mengetahui kegiatan-kegiatan dan paham keagamaan Persis.

Proses sosialisasi ajaran Persis melalui santri dalam program PLKJ dan aksi sosial lainnya diakui oleh sebagaian masyarakat sebagai suatu moment pengenalan ajaran yang berbeda dari paham keagamaan tradisionalis dan juga di beberapa tempat ada yang meminta untuk menjadi tujuan program PLKJ rutin setiap tahun. Para santri yang dinilai cakap pun sering kali diminta untuk menetap dan memberi wawasan keagamaan di suatu daerah. Hal ini diakui oleh ketua PD. Persis Kab. Garut sebagai suatu dorongan untuk terus melahirkan anggota Persis yang baru bahkan pimpinan cabang yang baru.
Masyarakat dari beberapa tempat yang pernah mendapatkan bantuan dari organisasi dan santri Persis pun sering kali tertarik untuk memasukan anaknya ke sekolah Persis karena melihat santri bukan hanya aktif secara akademik namun juga sosial kemasyarakatan. Pimpinan Persis pun sampai saat ini berusaha untuk memperbaharui kurikulum dan sistem pengajaran agar lebih dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Hal ini juga dimanfaatkan oleh pimpinan Persis sebagai suatu sarana penyebaran paham keagamaan dan pendirian lembaga keilmuan Persis ketika para santri kembali ke kampung halamannya.
Meskipun demikian, tidak seluruh santri sadar terhadap tugas dan peran sosialnya di dalam masyarakat dikarenakan dia bersekolah di Persis Tarogong untuk menambah wawasan namun dikarenakan beberapa program sosial harus dijalani. Secara tidak langsung dia menjadi agen penyebar paham keagamaan Persis. Hal inilah yang menurut Merton sebagai fungsi laten atau yang tidak dikehendaki awalnya.

Penutup
Aktualisasi pelajaran Pesantren khususnya dalam bidang keagamaan menjadi kunci utama yang ditekankan oleh metode pengajaran Pesantren Persatuan Islam. Metode tersebut merujuk kepada pencarian keridhoan Allah dengan cara menyampaikan berita keagamaan yang diperintahkan Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Cara pengajaran yang digunakan oleh pengajar dan ulama Persis berupa praktek lapangan setelah mendapatkan berbagai teori dan wawasan sosial agar proses pengajaran kepada masyarakat dapat berlangsung dengan baik. Masyarakat pun sering kali merasakan manfaat dari kegiatan santri tersebut karena menganggap bahwa kehadiran santri muda yang mampu melakukan dakwah mampu melanjutkan tradisi keagamaan dan penyebaran agama Islam di masyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu kunci Pesantren Persatuan Islam Tarogong yang tidak hanya memajukan bidang akademik di kalangan masyarakat namun juga mampu untuk memperlihatkan eksistensi bahwa pelajar juga mampu untuk memberikan kontribusi sosial kepada masyarakat. Peningkatan kurikulum yang berbasis kemasyarakatan mampu menarik masyarakat untuk mendaftarkan anak mereka ke dalam institusi Pesantren Persis Tarogong karena menginginkan menjadi lulusan yang mampu berkontribusi di kampung halamannya sendiri.

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X