Hubungan Kebijakan Baru Kemendikbud RI dengan Paradigma Pelajar Indonesia Mengenai Sistem “Merdeka Belajar” di Tahun 2020

Hubungan Kebijakan Baru Kemendikbud RI dengan Paradigma Pelajar Indonesia Mengenai Sistem “Merdeka Belajar” di Tahun 2020

Oleh : Nadira Khansa Fayadilla

Sorot matanya begitu kelam, raut wajahnya begitu muram. Begitulah ekspresi pelajar ketika tugas dan ujiannya semakin banyak. Mereka merasa terbebani dengan adanya tugas yang wajib mereka selesaikan dalam waktu yang sempit, dan juga terbebani oleh tuntutan untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Mereka merasa terbatasi dengan keadaan sehingga tidak ada waktu untuk mengeksplor passion mereka. Semua yang mereka kerjakan hanya demi nilai, karena kelulusan mereka juga tergantung pada besarnya nilai, bukan berdasarkan pada potensi-potensi istimewa yang mereka miliki. Tentunya mereka merasa tidak bebas, mereka merasa tidak merdeka.

Pendidikan di Indonesia sangat kaku, tertutup, dan hanya berpacu pada angka. Berdasarkan penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2019 menunjukkan bahwasannya hasil penilaian pada siswa Indonesia hanya berada di peringkat keenam dari bawah. Sementara itu, untuk bidang matematika dan literasi, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara. Padahal Indonesia memiliki lebih dari 217.512 sekolah, 2.719.712 guru, dan 45.357.157 murid. Tentunya dari hasil penelitian tersebut membuat pelajar Indonesia merasa bahwa sistem pendidikan di Negaranya harus diperbaiki agar tidak lagi menduduki posisi terbawah. Tetapi, apakah sistem pendidikannya yang harus diperbaiki, atau inisiatif belajar pelajar Indonesia yang harus ditingkatkan?

Pada akhir tahun 2019, tepatnya pada tanggal 11 Desember, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) akhirnya mengeluarkan kebijakan baru yang dikenal dengan nama “Merdeka Belajar” yang terdiri dari 4 pokok, di antaranya adalah :
Ujian Nasional (UN) akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan kepada pihak sekolah masing-masing.
Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi hanya 1 lembar.
Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), sistem zonasi diperluas.
Kebijakan baru dari Kemendikbud RI ini pastinya menimbulkan banyak pro dan kontra dari seluruh masyarakat Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Banyak yang merasa setuju dengan sistem pendidikan yang baru ini, tetapi tidak sedikit juga yang merasa tidak setuju. Sistem pendidikan ini juga pastinya memiliki sisi negatif dan positifnya, tergantung pada perspektif orang masing-masing.

Mereka yang merasa setuju beranggapan bahwa dengan adanya kebijakan baru yang lebih modern tersebut membuat pendidikan di Indonesia selangkah lebih maju. Sekarang sistem pendidikan di Indonesia sudah lebih luas, bebas, dan terbuka dari sebelumnya. Dimana para pelajar bisa memperluas wawasan dan daya pikir mereka, lebih bebas mengekspresikan dirinya, dan lebih terbuka dalam mengemukakan pendapat. Para pelajar juga bisa lebih mengenal diri sendiri dan lebih tahu kemampuan apa yang mereka miliki.

Dampak positif dari kebijakan baru yang sangat terasa bagi para pelajar adalah ketika UN diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Saya pribadi sangat setuju dengan perubahan tersebut. Karena selama ini, UN benar-benar menjadi tolak ukur kepintaran seorang pelajar, sehingga para pelajar banyak yang terbebani dengan adanya UN. Banyak juga pelajar yang mengalami stres karena merasa harus memenuhi tuntutan dan harapan orang tua yang ingin anaknya mempunyai nilai yang tinggi. Padahal banyak anak-anak yang menguasai suatu potensi dalam bidang tertentu selain pada pelajaran matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Memang keempat pelajaran tersebut sangatlah penting, tetapi karena yang dilihat dari kacamata orang-orang hanya 4 pelajaran tersebut, maka kemampuan yang dimiliki dan dikuasai oleh para pelajar menjadi tidak terlihat. Sedangkan banyak anak-anak yang mempunyai bakat di bidang seni, atlet, musik, dan sebagainya yang kurang mendapatkan apresiasi, sehingga mendatangkan rasa pesismis terhadap anak-anak tersebut.
Dengan adanya Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter ini, para pelajar bisa lebih terbuka dan mengasah kemampuan mereka. Para pelajar juga bisa mengungkapkan semua yang mereka alami selama di sekolah, baik itu suka maupun duka. Pihak sekolah juga bisa tahu apakah di lingkungan sekolahnya terjadi bullying, toleransinya sehat atau tidak, dan apakah murid-muridnya bahagia selama sekolah. Program ini dilaksanakan di tengah-tengah jenjang, yaitu pada kelas 4 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Dengan begitu, pihak sekolah memiliki waktu yang cukup untuk bisa memperbaiki sekolahnya, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang baik dan layak bagi murid-muridnya.

Perubahan positif yang lainnya adalah bahwa sekarang sekolah tidak selalu belajar di dalam kelas. Sesekali pelajar diajak belajar di luar kelas bahkan di luar sekolah. Hal ini tentunya berpengaruh positif bagi para pelajar, karena dengan adanya kegiatan belajar di lingkungan yang baru, kemungkinan besar mereka tidak akan merasa jenuh. Metode belajar saat ini juga sangat bervariasi, sehingga belajar menjadi lebih menyenangkan dan bisa mematahkan stigma yang sering dikatakan bahwa sekolah itu monoton dan membosankan. Tidak hanya itu, komunikasi dan interaksi antar pelajar dengan guru juga menjadi lebih baik, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih mudah dan terbuka.
Bagaimanapun juga, dalam perubahan sistem pendidikan yang cukup berbeda jauh dari sebelumnya ini, pastinya masih banyak yang merasa ragu dan juga belum siap untuk mengimplementasikan sistem pendidikan yang baru.

Saat ini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tidak setuju dengan sistem tersebut. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang mampu untuk memenuhi fasilitas belajar yang ada di zaman modern ini. Terlebih lagi masih banyak orang awam yang tidak mengerti bagaimana caranya menggunakan teknologi. Mereka berharap adanya pemerataan, dimana mereka mendapatkan semua fasilitas yang mereka butuhkan. Mereka berpikir bahwa hanya orang-orang kota saja yang dapat menerapkan sistem baru ini, mereka yang berada di pelosok merasa tidak diperhatikan.

Selain karena fasilitas teknologi yang kurang termumpuni, banyak juga yang masih tidak setuju dengan adanya sistem zonasi. Karena sistem zonasi ini seperti membatasi para pelajar yang berprestasi untuk masuk ke sekolah unggulan. Para pelajar yang rumahnya berada di pelosok, tidak bisa sekolah di sekolah unggulan yang ada di kota, mereka hanya bisa pasrah menerima keadaan bahwa mereka harus sekolah di dekat rumahnya atau di sekolah swasta. Tidak sedikit pelajar yang mengharapkan sistem zonasi ini untuk dihapus, karena mereka merasa memiliki hak untuk mendapatkan keadilan.

Tentunya pemerintah mendengar keluh kesah para warga khususnya para pelajar. Pemerintah juga sadar dan mengerti bahwa masih ada daerah-daerah yang merasa kesulitan dan belum siap untuk menerapkan sistem zonasi. Tetapi pihak Kemendikbud mendukung penuh inisiatif sistem zonasi dan mengatakan bahwa sistem zonasi ini sangatlah penting. Maka dari itu, zonasi masih tetap diterapkan, tetapi pemerintah mengubah sistem zonasi ini dengan memberikan sedikit kelonggaran, yaitu: 50 persen zonasi (sebelumnya 80 persen), 30 persen prestasi (sebelumnya 15 persen), 15 persen afirmasi (pemegang Kartu Indonesia Pintar), dan 5 persen perpindahan. Dapat diketahui bahwa adanya kenaikan pada persentase pelajar berprestasi, sehingga mereka masih memiliki kesempatan dan peluang untuk masuk ke sekolah unggulan walaupun tempat tinggalnya jauh dari sekolah tersebut.

Kebijakan baru “Merdeka Belajar” ini pastinya tidak bisa memenuhi keinginan dan ekspektasi seluruh masyarakat Indonesia. Tentunya masih ada rasa khawatir dan rasa tidak nyaman dalam perubahan ini. Walaupun sistem pendidikan yang sekarang masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak yang merasa skeptis, tetapi setidaknya ini adalah gebrakan awal yang bisa memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia kedepannya. Karena lebih baik berat mengalami perubahan demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih maju, daripada hanya diam tidak melakukan perubahan apapun sehingga tidak ada kemajuan sama sekali.

“Tidak ada perubahan yang nyaman-nyaman saja, semua perubahan itu pasti ada tantangannya, semua perubahan pasti ada ketidaknyamanannya. Tetapi seperti yang kita tahu, sudah waktunya Indonesia melompat kedepan, bukan hanya melangkah.” Tutur Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada Rapat Koordinasi Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia, Jakarta, 11 Desember 2019.

Memang sulit rasanya untuk menerima suatu perubahan. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, para pelajar pasti bisa terbiasa dan menerimanya. Karena ini semua tergantung pada paradigma mereka. Pelajar adalah generasi muda yang mempunyai pola pikir yang tidak cukup untuk dilihat dari satu sisi saja. Mereka pasti mempunyai pendapat dan pendirian masing-masing yang tentunya berbeda-beda.
Pada sistem pendidikan yang baru ini, para pelajar harus terus berpikir visioner. Berdasarkan penelitian Profesor Lant Pritchett dari Harvard Kennedy School yang meneliti khusus anak-anak di Jakarta yang berusia 15 tahun, menunjukan bahwa mereka tertinggal 128 tahun dibandingkan dengan negara-negara lain. Maka dari penelitian tersebut, jangan sampai mindset atau pola pikir mereka tidak berkembang. Dengan waktu kita yang sudah tertinggal jauh selama 128 tahun, jangan sampai kita merasa sudah terlambat. Percayalah bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar prestasi, kita harus yakin bahwa kita bisa mengejar ketertinggalan tersebut dengan secepat mungkin. Karena sistem pendidikan yang baru ini harus didukung dengan semangat para pelajar, sehingga pendidikan di Indonesia bisa berkembang mengikuti arus zaman dan teknologi.
Pada zaman sekarang teknologi adalah salah satu fasilitas yang penting dan menjadi kebutuhan yang pasti dimiliki oleh hampir setiap orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perkembangan teknologi sangatlah berpengaruh dalam bidang pendidikan. Dengan teknologi, semua bisa dikerjakan dengan mudah dan cepat. Teknologi juga bisa memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan para pelajar, sehingga mereka bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk mencari tahu apapun yang mereka inginkan. Tanpa teknologi yang ada pada zaman sekarang, mungkin kita semua akan merasa sangat kesulitan. Tetapi teknologi sebenarnya tidak bisa dikatakan positif dan tidak juga bisa dikatakan negatif. Karena pada dasarnya teknologi hanyalah sebuah alat, positif atau negatifnya tergantung pada yang menggunakannya. Maka dari itu, dengan kemajuan teknologi di zaman sekarang yang sudah modern ini seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik dalam bidang pendidikan.

Para pelajar juga harus bisa open minded dan berpikir kritis. Karena jika seluruh pelajar berpikiran sempit, apapun kebijakan dari Kemendikbud tidak akan bisa berjalan dengan baik. Pelajar adalah generasi sekarang yang nantinya akan memajukan bangsa Indonesia dengan lahirnya inovasi-inovasi baru yang berasal dari pemikiran mereka. Para pelajar harus bisa mengidentifikasi apa saja hal-hal yang positif dan juga negatif dari kebijakan baru Kemendikbud. Dan tentunya mereka juga harus bisa mengedepankan dan memprioritaskan sisi positif dari kebijakan tersebut. Terkadang masih banyak yang melihat suatu hal hanya berdasarkan pada sisi negatifnya saja, padahal di sisi lain ada banyak hal positif yang tidak dianggap ada.

Para pelajar juga harus bisa memperbaiki diri mereka agar tidak mudah percaya akan suatu hal yang baru diberitakan, tidak mudah menyimpulkan sesuatu, tidak malu untuk bertanya, tidak merasa puas akan ilmu yang sudah mereka miliki, bisa lebih menghargai proses belajar mereka daripada besarnya nilai yang didapat, lebih bersyukur akan semua hal yang telah mereka punya, dan lebih bersyukur dengan keadaan Indonesia yang sudah bebas dari para penjajah.
Jika kita mundur ke puluhan tahun yang lalu, keadaan pendidikan di Indonesia jauh berbeda dengan sekarang. Dulu jumlah sekolah hanya sedikit dan juga sangat terbatas. Meskipun masih ada beberapa sekolah pribumi yang didirikan pada masa penjajah, tetapi sekolah tersebut hanya diperbolehkan untuk para bangsawan. Walaupun mungkin beberapa tahun kemudian ada sekolah untuk pribumi biasa, tetapi mereka harus tutup mulut dan tidak boleh bertanya, karena dulu para penjajah tidak mau rakyat Indonesia menjadi pintar. Bahkan setelah Indonesia lepas dari para penjajah pun, tetap saja tidak semua rakyat Indonesia bisa sekolah. Hal tersebut dikarenakan masih terbatasnya guru yang ada pada saat itu, juga fasilitas belajar yang tidak lengkap. Alat tulis pun tidak seperti yang kita gunakan sekarang, anak-anak pada zaman dahulu hanya menggunakan papan sabak sebagai media tulis menulis.

Jika dibandingkan dengan keadaan pendidikan yang sekarang, tentunya kita harus banyak bersyukur dan lebih semangat untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan merdeka. Tidak hanya pelajar di sekolah unggulan saja yang bisa sukses di masa depan, menimba ilmu dimanapun juga jika para pelajar bersungguh-sungguh dan mempunyai tekad yang kuat, kemungkinan besar mereka juga akan mempunyai masa depan yang cerah. Sudah sepatutnya mereka memiliki mimpi yang sejalan sengan cita-cita perjuangan bangsa. Janganlah berkecil hati, tetaplah maju dan berusaha untuk mencapai mimpi setinggi langit. Bung Karno pernah berujar “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Maka tetaplah semangat dalam menggapai mimpi. Hadapi rintangan yang ada di depan mata walaupun sesulit apapun itu, walaupun terlihat sangat tidak memungkinkan untuk dilewati, yakinlah pada diri sendiri bahwa semua bisa dilewati asalkan tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati. Jadilah pemuda Indonesia yang inovatif dan inspiratif, yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mengarahkan pendidikan Indonesia ke arah yang tepat.
Kita semua sebagai warga negara Republik Indonesia harus bahu-membahu demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas tinggi. Pelajar maupun pemerintah harus bisa menemukan jalan tengah yang sesuai dalam memecahkan suatu masalah. Kita semua harus bersatu sesuai dengan semboyan dan asas-asas Pancasila. Ikatan tali kemerdekaan harus kita eratkan, jangan sampai ikatan kita merenggang. Jangan hanya karena hal kecil saja kita menyerah, jangan hanya karena hal kecil saja kita terpecah belah, jangan hanya karena hal kecil saja kita merasa tidak bisa maju kedepan. Percayalah bahwa masih banyak kesempatan dan keberuntungan yang akan datang dari hasil kerja keras kita, dari hasil kerjasama kita semua, seluruh rakyat Indonesia.

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X