H. Mohammad Iqbal Santoso Kembali Pimpin Pesantren Persis Tarogong

Garut – Pimpinan Cabang Persatuan Islam Tarogong Kidul melaksanakan Musyawarah Pemilihan Mudirul Am untuk Masa Jihad 2023-2028. Musyawarah ini dilaksanakan pada Sabtu 24 Desember 2022 M / 30 Jumadil Ula 1444 H bertempat di Aula Syihabuddin. Alhamdulilah proses pemilihan sendiri dilakukan dengan musyawarah mufakat yang terdiri dari unsur Pimpinan Cabang Persis Tarogong Kidul, Penasehat Pesantren dan seluruh Mudir Satuan Pendidikan. Dari hasil musyawarah mufakat ini terpilih H. Mohammad Iqbal Santoso sebagai Mudir Am Pesantren Persis Tarogong Masa Jihad 2023-2028.

Ustadz Yasir Ismail, S.Pd Ketua PC Persis Tarogong Kidul dalam sambutannya menyampaikan, pemilihan Mudirul Am Pesantren Persis Tarogong ini diharapkan bisa menjadi prototype untuk diterapkan di pesantren lain dalam memilih Mudirul Am. Sesuai dengan aturan yang ada maka proses pemilihan kepemimpinan ini dilaksanakan oleh PC Persis Tarogong Kidul.

“Kepada seluruh asatidz yang akan melakukan musyawarah, maka apapun yang dihasilkan seluruh asatidz patuh terhadap hasil musyawarah tersebut”, ucapnya

Memilih Mudirul Am harus mempertimbangkan beberapa hal yaitu rekam jejak selama pengabdian di Pesantren, kapasitas, kapabilitas dan tentunya Mudirul Am yang terpilih bisa mengembangkan Pesantren menjadi lebih baik, bisa tetap mempertahankan jati diri sebagai Pesantren.

“Jati diri kita adalah pesantren yang tidak boleh ditinggalkan. Mudir Am yang terpilih harus mampu membawa Pesantren untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang”, jelasnya

H. Mohammad Iqbal Santoso dalam sambutannya menyampaikan, jabatan Mudirul Am itu ada waktunya, ada masanya, dan sekarang adalah waktunya untuk memilih Mudirul Am masa jihad baru. Pesantren ini ada di bawah Jam’iyyah Persis, maka Pesantren harus tunduk pada aturan Jam’iyyah.

Pesantren tunduk pada ajaran Islam, dan tentunya proses pemilihan Mudirul Am sendiri mengacu pada aturan jam’iyyah. Jika dilihat dalam sejarah islam setelah Rasulullah wafat, pemimpin ditetapkan beberapa hari kemudian, Rasulullah tidak menetapkan cara yang baku sehingga proses pemilihan pemimpin disesuaikan dengan situasi kondisi.

“Pemilihan Khulafaur Rasyidin, keempatnya memiliki proses pemilihan yang berbeda. Tetapi setelah reformasi terpengaruh cara pemilihan demokrasi, dan ini tidak ada aturan baku dalam cara pemilihan. Saya lihat baru pertama kali, di Muktamar Persis, peserta Muktamar yang di bai’at bukan orang yang terpilihnya”, jelasnya

Pesantren ini berhasil buka atas nama pribadi, tapi hasil kerjasama seluruh asatidz dan seluruh pihak dan semoga menjadi amal jariyah bagi semua. Musyawarah yang dilakukan ini semata untuk kemajuan dakwah dan menjaga kepercayaan masyarakat kepada Pesantren. Pesantren harus memiliki manajemen modern sehingga Pesantren dikenal bukan karena siapa pemimpinnya tapi sistemnya.

Dr. Pepen Irfan Fauzan Sekretaris Bidang Pendidikan PP Persis yang berkesempatan hadir pada pemilihan Mudir Am menyampaikan bahwa bidang pendidikan akan senantiasa mendukung untuk menjadi sekolah unggulan di Indonesia. Pesantren harus memiliki daya juang, semangat dan tidak pernah puas terhadap apa yang telah dicapai. Jangan pernah puas, tidak berpuas diri.

Pesantren harus punya target yang dicanangkan untuk program jangka panjang, kemudian orang orang yang ada di Pesantren pun harus mampu berpikir visioner dalam upaya mendidik generasi muda islam ideal sebagaimana pemuda terdahulu yang merupakan hasil pendidikan di Pesantren Persatuan Islam.

“Karakter ideal pemuda Islam yang pernah lahir dari pendidikan Persis adalah Mohammad Natsir yang mampu berpikir cerdas, berkepribadian tawadhu dan memiliki semangat juang yang tinggi. Natsir ini tidak hanya berkiprah nasional namun juga internasional, yang diakui oleh Barat sekalipun. Tentunya Pesantren harus mampu mendidik anak muda seperti Natsir ini”, jelasnya

#humaspesantrenpersistarogong

Komentar (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *