Menghadapi Era AI: Guru Matematika Seluruh Jenjang Pesantren Persis Tarogong Satukan Visi Literasi Teknologi
GARUT (9/5/2026) – Pendidikan yang hakiki tidak pernah menolak laju zaman, melainkan menavigasinya dengan bijak. Kesadaran inilah yang mendasari langkah proaktif Pesantren Persatuan Islam (Persis) Tarogong dalam merespons pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan.
Bertempat di Ruang Rapim Pesantren Persis Tarogong pada hari ini, Sabtu (9/5/2026), telah dilangsungkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada pengembangan kompetensi pendidik.
Hal yang paling esensial dari kegiatan ini adalah pesertanya. Pelatihan ini tidak dikhususkan untuk satu tingkatan saja, melainkan merangkul seluruh guru matematika dari setiap jenjang pendidikan yang ada di Pesantren Persis Tarogong, mulai dari SDIT, MTs, hingga MA.

Kehadiran para pendidik lintas jenjang ini menunjukkan komitmen institusi yang utuh. Pesantren Persis Tarogong menyadari bahwa literasi teknologi dan penanaman konsep berpikir logis harus dibangun secara berkesinambungan, dari pendidikan dasar hingga menengah atas.
Bekerja sama dengan Program Studi Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI), kegiatan ini secara spesifik membedah pemanfaatan aplikasi Photomath—salah satu alat berbasis AI yang paling sering bersinggungan dengan siswa saat ini.
Pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan aspek teknis penggunaan aplikasi, melainkan menyentuh akar filosofis tentang bagaimana seorang pendidik memposisikan teknologi di ruang kelas.
Ust. Drs. Saeful Hayat, dalam sambutanya sebagai Pimpinan Pesantren, memberikan pandangan yang sangat mendasar terkait hal ini. “Aplikasi Photomath ini sebaiknya dipandang sebagai alat bantu atau ‘tutor pribadi’ yang menjelaskan proses penyelesaian masalah, bukan sekadar alat untuk mendapatkan jawaban cepat. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah agar para peserta mampu membimbing siswa dalam menggunakan teknologi dengan tetap fokus pada pemahaman konsep matematika.”

Kekhawatiran bahwa AI akan “memanjakan” dan mematikan nalar kritis siswa dijawab dengan lugas oleh Dr. Rostina Sundayana, M.Pd (Ketua Pelaksana PKM dari IPI). Beliau menegaskan bahwa pelarangan bukanlah solusi yang mendidik.
“Jangan sampai siswa/santri itu hanya menyalin jawaban dari AI, tanpa bisa berfikir. AI bukan hanya sekedar kunci jawaban, tapi juga teman berpikir,” tegas Pak Sundayana. “Guru tidak bisa melarang siswa untuk faham teknologi, tapi guru perlu memahami bahwa teknologi/AI merupakan teman belajar bagi mereka.”
Sinergi yang terbangun pada hari ini tidak akan berhenti pada satu titik pelatihan saja. Kerjasama antara Pesantren Persis Tarogong dan Institut Pendidikan Indonesia (IPI) diproyeksikan akan terus berlanjut dan berkembang. Ini merupakan bentuk komitmen jangka panjang kedua belah pihak dalam mengawal kualitas pendidikan Islam, memastikan para asatidz senantiasa adaptif, dan para santri selalu siap menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai dasar mereka.

Melalui kolaborasi strategis ini, guru tidak lagi bersaing dengan mesin pencari atau AI, melainkan menjadi fasilitator yang membimbing santri memanfaatkan teknologi tersebut untuk memperdalam pemahaman dan mengasah logika.
Dokumentasi : Instagram
