berita

KH. Syihabudin : Tokoh Perintis Persis Garut

Garut – Pimpinan Daerah Persis Garut menyelenggarakan Musyawarah Daerah VIII pada Sabtu – Ahad (15-16/02/20) di Auditorium Kampus STAI Persis Garut. Musyawarah Daerah VIII kali ini mengusung tema “Integrasi Jihad Jam’iyyah Untuk Memperkokoh Kemandirian Jama’ah Persis Garut”. Sebelum pelaksanaan Musyawarah Daerah dilaksanakan acara penyerta yaitu Seminar Pemikiran Aliran Sesat dan Jalan Sehat Keluarga Besar Persis Garut.

Dalam acara pembukaan Musyawarah Daerah inipun, pihak panitia memberikan penghargaan khusus kepada Tokoh Perintis Persis Kabupaten Garut yang langsung diwakili oleh Keluarganya. Tokoh Perintis Persis Garut diantaranya adalah KH. Jamaluddin, KH. Syihabudin, KH. Komarudin, KH. Zaenudin. Keluarga KH. Syihabudin diwakili oleh dr. Hibban Muttaqin yang menerima penghargaan dari Pimpinan Daerah Persis Garut.

Sekilas sejarah perjuangan KH. Syihabudin di Kabupaten Garut. Pada tahun 1967, atas inisiatif Zaenuddin Masdiani, Komaruddin AS, Syihabuddin, dan Djamaluddin, dibangun sebuah Pesantren Persatuan Islam pertama di Garut diawali dengan membuka jenjang pendidikan Madrasah ​diniyyah lalu kemudian tingkat ​tsanawiyyah​. Sejak itu dikenal dengan nama Pesantren Persatuan Islam Garut, atau kini dikenal dengan Pesantren Persis 19 Bentar.

Pada awal berdirinya, struktur kepemimpinan Pesantren Persis Garut dipegang oleh keempat pendirinya yang dikenal dengan “4-Din”, yaitu Biro administrasi dipegang oleh Syihabuddin, Biro pendidikan dan dakwah dipegang oleh Komaruddin AS, dan Biro Harta Benda dipegang oleh Djamaluddin. Sedangkan pucuk pimpinannya dipegang oleh Zaenuddin Masdiani (1968-1971). Selain sebagai Pimpinan Pesantren Persis Garut, Zaenuddin juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Islam Garut pertama. Setelah kepemimpinannya berakhir, Pesantren kemudian dilanjutkan oleh Syihabuddin (1971-1979).

Syihabuddin memimpin Pesantren Persis Garut dengan berbagai inovasi dan pengembangan. Hal ini terlihat dengan banyaknya santri yang belajar di Pesantren Persis Garut, bahkan sampai tidak bisa tertampung lagi. Sekitar tahun 1978, Syihabuddin memutuskan membuka lokal baru di daerah Rancabogo, Tarogong untuk menampung santri yang berlebih.

Pembangunan perluasan Pesantren Ini diinisiasi oleh Sjihabuddin dengan mengajak beberapa anggota dan simpatisan Persis mengumpulkan uang pribadi mereka untuk pembelian sebidang tanah di Rancabogo. Kemudian mendapat bantuan dana dari Kerajaan Saudi Arabia yang memperlancar proses pembangunan.

Pesantren lalu diresmikan pada hari Ahad 15 Juni 1980 (1 Sya’ban 1400 H), dikenal dengan nama Pesantren Persis Garut II dipimpin oleh Syihabuddin (1980-1994). Sementara Pesantren Persis Garut (Bentar) dilanjutkan kepemimpinannya oleh Djamaluddin.

Pesantren Persis Garut II yang kini dikenal dengan Pesantren Persis Tarogong sejak diresmikan pada tahun 1980, telah memiliki jenjang pendidikan tingkat ​diniyyah dan ​tsanawiyyah​. Sedangkan jenjang pendidikan tingkat mu’allimin baru dibuka tahun 1985. Sekalipun tergolong baru, perkembangan Pesantren Persis Tarogong pun cukup pesat di bawah kepemimpinan Syihabuddin yang dibantu oleh istrinya, Aminah Dahlan.

Dengan semangat jihad dan tajdidnya, mereka mengembangkan Pesantren yang hingga kini terlihat perkembangannya begitu pesat, berdampak luas pada pengembangan dakwah Persis di Kab. Garut.

#khsyihabudintokohperintispersisgarut
#humaspesantrenpersistarogong

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X