berita

Jama’ah Ihyaul Islam Pesantren Persis Tarogong Silaturahmi pada Penulis Kitab Al Hidayah, KH. A Zakaria

Garut – Jama’ah Ihyaul Islam Pesantren Persis Tarogong pada hari Jum’at 29 Juli 2022 / 29 Dzulhijjah 1443 H berkesempatan untuk bersilaturahmi kepada penulis Kitab Al Hidayah yang juga sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam, KH. Aceng Zakaria.

Jama’ah Ihyaul Islam setiap ba’da shubuh di hari Jum’at menggelar kajian keislaman dengan bahasan khusus kitab klasik. Kajian ba’da shubuh sekarang mengkaji Kitab Al Hidayah karya ulama sekaligus Ketua Umum PP Persis, KH. Aceng Zakaria.

Pada kesempatan silaturahmi Jum’at siang, setelah Jama’ah dijamu dengan makan siang oleh keluarga KH. Aceng Zakaria. Ustadz Agus Arif Rahman sebagai Ketua Pimpinan Jama’ah Ihyaul Islam menjelaskan maksud dan tujuan silaturahmi ini, bahwa Jama’ah Ihyaul Islam setiap hari Jum’at ba’da shubuh melaksanakan kajian dan kitab yang dikajinya adalah Kitab Al Hidayah. KH. Aceng Zakaria pun menyambut baik dengan kajian yang dilakukan oleh Jama’ah Ihyaul Islam dan beliau pun bersedia meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan berkaitan sejarah, isi bahasannya berikut sistematika penulisan Kitab Al Hidayah ini.

KH. Aceng Zakaria bercerita pengalaman hidupnya selama belajar di Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Beliau berkisah perjalanannya menuntut ilmu bersama KH. E. Abdurahman guru beliau di Pesantren Persis Pajagalan. “Ustadz Abdurrahman itu jika mengajar serius, meskipun yang hadir hanya dua orang belajar tetap dilaksanakan”, kenangnya

Dalam waktu satu tahun KH. Aceng Zakaria langsung mendapatkan dua ijazah sekaligus, mengingat pada tahun yang sama mengikuti dua kali ujian. Ujian tingkat Mualimin dan ujian tingkat Tsanawiyah yang dilakukan pada tahun 1970 dengan kategori lulus keduanya. “Pada tahun 1970 saya dua kali ujian, ujian Mualimin dan Tsanawiyah dan Alhamdulillah lulus keduanya”, ucapnya

Selepas selesai belajar di Pesantren Pajagalan Bandung, beliau mendapatkan beberapa rekomendasi dari keluarganya, pulang kampung, meneruskan kuliah atau mengajar di Pesantren Persis Pajagalan Bandung sebagaimana yang disarankan oleh KH. E. Abdurrahman.

Sebelum berguru dengan KH. E. Abdurrahman Aceng Zakaria muda sudah memiliki modal yang cukup karena telah menguasai dan menamatkan sepuluh kitab ketika usianya masih Sekolah Dasar. Selain itupun Aceng Zakaria muda setelah selesai belajar di Pajagalan sudah terbiasa dengan diskusi/debat dengan ulama ulama terkemuka yang ada di Kabupaten Garut.

“Sebelum belajar di Pesantren Persis Pajagalan saya sudah punya modal, telah menamatkan sepuluh kitab ketika masih tingkat Sekolah Dasar. Dan pada tahun 1973 sudah mulai melakukan diskusi/debat dengan para ulama terkemuka di Kabupaten Garut berkaitan dengan masalah masalah fiqh”, terangnya

Kemudian pada tahun 1975 Aceng Zakaria muda mendapatkan tugas mengajar di Garut atas permintaan Ibu Aminah Dahlan dan Ustadz Syihabudin. Aceng Zakaria muda mengajar para mubaligh yang ada di Kabupaten Garut dan materi materi ajar untuk mubaligh itulah yang menjadi cikal bakal adanya Kitab Al Hidayah.

Kitab Al Hidayah ini ditulis oleh Aceng Zakaria pada usia 35 tahun dan ketika pertama kali dicetak Kitab Al Hidayah ini dibagikan secara gratis kepada para ulama yang ada di Kabupaten Garut. “Kitab Al Hidayah ini tidak sengaja ditulis, karena itu adalah bahan kajian bagi para mubaligh dan dikumpulkan. Ketika usia 35 tahun disusunlah Kitab Al Hidayah. Dan ketika mulai pertama dicetak semua ulama di Garut diberikan gratis Al Hidayah ini”, jelasnya

Sampai dengan sekarang KH. Aceng Zakaria disela sela padatnya aktivitas sebagai Ketua Umum PP Persis, beliau senantiasa produktif dalam menulis dan kini tidak kurang dari 120 judul buku telah berhasil diterbitkan. Selama masa pandemi Covid-19 beliau berhasil menulis 15 judul buku yang telah diterbitkan.

“Kitab Al Hidayah ini adalah Fiqh Persis. Pada prinsipnya sama pedoman yang digunakan berasal dari Al-Quran dan Sunnah tetapi instinbat yang berbeda. Al Hidayah ini sudah banyak yang menerima tapi sulit untuk mengamalkannya. Saya terdorong menulis karena bermanfaat, selama Covid saja 15 judul buku dihasilkan. Ditulis agar ilmu tidak hilang sehingga sampai sekarang sudah 120 judul buku”, jelasnya

Selama diskusi bersama KH. Aceng Zakaria di Saung Kayu yang berada di atas kolam para Jama’ah mendapatkan informasi yang jelas langsung dari beliau berkaitan dengan beberapa masalah fiqh seperti : qunut shubuh, bacaan bismillah ketika membaca al-fatihah, jumlah takbir sholat hari raya, bacaan sayyidina bagi nabi Muhammad, bacaan al-fatihah bagi ma’mum, sholat masbuk dan lainnya.

#humaspesantrenpersistarogong

Komentar (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

X