| | | |

Penguatan Kapasitas Santri Mu’allimin Tingkat Akhir, Bekali Santri dengan Literasi Keuangan, Kewirausahaan, dan Akademik

PERSISTAROGONG.COM— Santri Mu’allimin tingkat akhir mendapatkan penguatan kapasitas melalui kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas Santri Mu’allimin Tingkat Akhir dalam Literasi, Kewirausahaan, dan Akademik” yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk membekali santri dengan wawasan dan keterampilan yang relevan sebagai persiapan menghadapi dunia pendidikan lanjutan maupun kehidupan profesional setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Dalam kegiatan tersebut, tim Media Persis Tarogong berkesempatan melakukan wawancara bersama Prof. Dr. Muhammad Umar Mai, M.Si. untuk menggali pandangan mengenai pentingnya literasi keuangan, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta peran pendidikan dalam membangun jiwa kewirausahaan generasi muda.

Prof. Dr. Muhammad Umar Mai, M.Si. menekankan bahwa literasi keuangan perlu dibangun sejak dini. Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan bagaimana seseorang menggunakan dan mengembangkan penghasilannya.

“Tidak sedikit seseorang yang berpenghasilan sama tetapi hasilnya berbeda,” ujarnya.

Ia memberikan gambaran bahwa perbedaan kondisi finansial seseorang tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, tetapi juga oleh bagaimana seseorang merencanakan dan mengelola keuangannya.

Menurutnya, mahasiswa maupun santri perlu mulai membiasakan diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan pun harus kembali dipilah berdasarkan skala prioritas agar penggunaan keuangan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

“Perencanaan keuangan perlu dibutuhkan. Kebiasaan penggunaan perlu diatur karena kadang-kadang kita tidak bisa membedakan mana keinginan, mana kebutuhan,” jelasnya.

Selain literasi keuangan, perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam pembekalan generasi muda. Prof. Umar Mai menjelaskan bahwa mahasiswa dan generasi muda perlu terus mengikuti perkembangan teknologi karena hampir seluruh aspek kehidupan saat ini semakin terhubung dengan teknologi.

Namun, kemudahan teknologi juga perlu diimbangi dengan literasi yang memadai. Ia mengibaratkan teknologi sebagai dua sisi ruang yang dapat memberikan manfaat, tetapi juga memiliki risiko apabila tidak digunakan secara bijak.

“Teknologi itu semacam dua sisi ruang; satu sisi bisa membantu, sisi lain bisa membahayakan jika tidak dibarengi literasi keuangan,” ungkapnya.

Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu melihat perkembangan tersebut sebagai peluang. Perubahan pola kehidupan dan pasar yang semakin terdigitalisasi membuka ruang baru bagi mereka yang mampu beradaptasi dan menguasai teknologi.

Sementara dalam bidang kewirausahaan, Prof. Umar Mai menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan lapangan pekerjaan.

Menurutnya, berbagai pembelajaran kewirausahaan dan praktik bisnis yang diberikan di perguruan tinggi dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk membangun kemandirian. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang setelah lulus memilih untuk membuka usaha karena telah mendapatkan pengalaman dan keterampilan kewirausahaan selama masa pendidikan.

“Perguruan tinggi biasanya menyediakan keterampilan melalui dosen-dosen yang kompeten untuk menciptakan kemandirian, bukan hanya menciptakan pekerja,” tuturnya.

Pesan tersebut juga relevan bagi santri Mu’allimin tingkat akhir yang tengah mempersiapkan diri memasuki jenjang kehidupan berikutnya. Literasi, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta keberanian untuk berwirausaha menjadi bekal penting agar santri tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menghadapi berbagai tantangan dan peluang di masa depan.

Melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Santri Mu’allimin Tingkat Akhir, diharapkan para santri memiliki perspektif yang lebih luas mengenai dunia akademik, pengelolaan keuangan, perkembangan teknologi, dan kewirausahaan. Dengan demikian, pendidikan yang diperoleh tidak hanya menjadi bekal untuk melanjutkan studi, tetapi juga membentuk pribadi yang mandiri, adaptif, dan mampu memberikan manfaat di tengah masyarakat. [Triana]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *