Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem.
Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.
read moreOleh: Ahdan Ramdani
Semua orang bisa bicara tentang cinta. Tapi adakah yang tahu sebab terwujudnya cinta kepada Allah, yakni Rabb yang telah menciptakan kita? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sepuluh sebab agar bisa mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, diantaranya;
Dinukil Dari Kitab Fathul Majid karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Halaman 406, terbitan Darul Fikr.
By: Ahdan Ramdani
read moreDitulis Oleh: Ahdan Ramdani[1]
Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu, dan kita telah memasuki bulan syawwal. Bulan dimana terdapat beberapa amalan sunnah didalamnya. Diantara amalan sunnah di bulan syawwal adalah shaum enam hari di bulan syawwal yang pahalanya senilai dengan kita shaum selama setahun penuh, hal ini berdasarkan hadits dari Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[2]
Shaum syawwal paling afdhol (utama) dilakukan secara berturut-turut setelah hari Idul Fitri yakni pada tanggal 2 syawwal jika memang tidak ada udzur. Namun, jika memang ada halangan, tidak mengapa tidak berurutan juga. Ini adalah pendapat yang disandarkan kepada madzhab Imam Asy-Syafi’i. Dalam masalah ini, Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata:
“Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol melakukan shaum syawwal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawwal setelah sebelumnya melakukan puasa ramadhan.”[3]
Selain sunnahnya shaum syawwal, ada juga amalan sunnah lain yang dapat Antum lakukan di bulan syawwal. Salah satunya adalah menikah di bulan syawwal. Hal ini merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pada kala itu beliau menikahi Aisyah radhiallahu ‘anhu.
Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan syawwal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?” Salah seorang perawi mengatakan, “Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan syawwal.”[4]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan amalan sunnah ini untuk membantah kebiasaan orang Arab yang menganggap sial jika ada diantara mereka yang menikah diantara dua hari raya[5]. Oleh karena itu Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan amalan sunnah ini untuk menyelisihi pemahaman orang Arab jahiliyyah kala itu. Hal ini diperkuat oleh pendapat Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah, berkata: “Berkumpulnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (menikah) dengan Aisyah radhiallahu ‘anha pada bulan syawwal merupakan bantahan terhadap keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah dengan isteri mereka di antara dua hari raya, karena khawatir bakal terjadi perceraian antara suami-isteri tersebut, yang hal ini sebenarnya tidak ada sesuatupun padanya.”[6]
Imam An-Nawawi rahimahullah juga berkata: “Hadits itu menunjukkan bahwa disunnahkan menikahi, memperistri wanita dan menggauli pada bulan syawwal dan sahabat-sahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits tersebut. Aisyah sengaja berkata seperti tersebut diatas untuk membantah tradisi orang-orang jahiliyyah dan apa yang dikhayalkan sebagian orang awam pada saat ini, berupa ketidak sukaan mereka menikah dan berkumpul pada bulan syawwal. Dan hal ini adalah batil dan tidak ada dasarnya, dan termasuk peninggalan jahiliyyah dimana mereka meramalkan hal tersebut dari kata syawwala yang artinya mengangkat ekor ( tidak mau dikawin).”[7]
Padahal dalam Islam, anggapan-anggapan sial itu adalah termasuk perbuatan syirik. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ramalan nasib adalah syirik.”[8]
Ini juga sekaligus anjuran bagi Antum yang belum menikah dan mampu, semoga dapat disegerakan. Karena menikah dapat menyalurkan syahwat dan cinta secara halal yang sesuai syariat. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu sekalian yang mampu menikah maka menikahlah karena ia lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah puasa, sebab ia bisa menjadi obat.”[9]
Oleh karena itu, berbahagialah bagi Antum yang dapat (segera) melaksanakan kedua amalan sunnah ini. Semoga pernikahan kalian diberkahi. Amin.
[ Ditulis khusus untuk pernikahan dua adik kelas kami (di pesantren Persis) yang sedang berbahagia, yakni Akhi Nurul Hadi Manan dan Ukhti Evi Siti Fauziyyah, kami ucapkan Barokallahu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a baynakuma fil khoer ]
Ahdan Ramdani (Abu Abdillah Al-Atsari)
7 Syawwal 1432 H / 6 Agustus 2011
____________________
[1] Alumnus Ma’had Persatuan Islam Tarogong Garut
[2] Hadits Riwayat Imam Muslim
[3] Kitab Syarah Shahih Muslim: VIII/56
[4] Hadits Riwayat Imam Muslim: II/1039
[5] Yakni, menikah antara hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha
[6] Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah: III/235
[7] Syarah shahih Muslim karya Imam an Nawawi (IX/209).
[8] Hadits Riwayat Imam Ahmad: I/440
[9] Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim
read moreDitulis Oleh: Ahdan Ramdani[1]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Dunia adalah penjara bagi seorang mu’min dan surga bagi seorang kafir.”[2]
Saudaraku seiman, hadits ini setidaknya memberikan kita dua faedah,
Faedah Pertama: Dunia di Mata Seorang Mu’min
Bahwa dunia yang ditempati seorang mu’min pada saat ini walaupun terhampar luas dihadapannya, tetapi dia bagaikan dipenjara. Bagaimana tidak, walaupun dia seorang yang kaya tetapi banyak hal yang tidak bisa dia nikmati melalui hartanya, misalnya dalam perkara-perkara yang dalam syari’at diharamkan. Dia terbelenggu aturan-aturan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang disampaikan melalui rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena bagi seorang mu’min, dunia tiada lain adalah kesenangan yang memperdaya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”[3]
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, berkata: “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.”[4]
Faedah Kedua: Dunia di Mata Orang Kafir
Bahwa dunia yang ditempati oleh orang kafir pada saat ini adalah alam raya yang terhampar luas dan bisa dia nikmati dengan sebebas-bebasnya. Karena kebodohannya terhadap syari’at Islam dia dapat bertindak seenak hatinya, walaupun dia adalah orang yang miskin tetapi orang kafir tersebut merasa bebas dan tidak merasa terbebani dengan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang dibebankan kepada seseorang yang beriman. Dan ketika dia ditimpa kesusahan, dia tidaklah bersabar, melaikan dia merasa dunia telah disempitkan untuknya dan banyak kasus terjadi bunuh diri di kalangan mereka karena mereka tertekan dengan musibah yang menimpa mereka.
Kekhawatiran Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa salam Terhadap Kaum Mu’minin
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.”[5]
Saudaraku kaum mu’minin rahimakumullah, sungguh Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa salam melalui hadits tadi memperingatkan kita agar tidak terpedaya dengan dunia dan fitnahnya. Terutama fitnah harta, tahta dan wanita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.” (HR. Muslim)[6]
Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa salam: “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.”[7]
Karena itu bersikaplah engkau di dunia ini dengan pertengahan, antara berlebihan mengejar dunia agar kita tidak lalai beribadah. Karena biasanya berlebihan dalam urusan dunia akan melalaikan kita dalam mengingat Allah. Dan Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”[8]. Juga janganlah kita berlebihan dalam bersikap “zuhud” yang menyimpang, yang kebanyakan ajaran tersebut diajarkan oleh para kaum “sufi” yang bodoh terhadap ilmu syari’at. Karena itulah yang diajarakan oleh para salafush shalih.
Fudhail Bin Iyadh rahimahullah, berkata kepada Ibnu Mubarak, dia berkata: “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Kemudian Ibnu Mubarak pun berkata: Wahai Abu ‘Ali (Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku.”[9]
Jangan Bersedih Saudaraku! Inilah Dua Kunci Sukses Seorang Mu’min
Namun, wahai saudaraku seiman, janganlah engkau merasa sedih dengan terpenjaranya kita di dunia ini dan terbelenggunya “ambisi duniawi” kita untuk mengejar dunia. Karena apapun keadaan kita, baik kita dalam keadaan lapang ataupun sempit. Kaya maupun miskin, insya Allah, kita selalu berada dalam kebaikan dan keberuntungan. Karena Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar.”[10]
Dua kunci sukses dalam kehidupan seorang mu’min adalah syukur dan sabar. Itulah dua bekal yang dimiliki oleh seorang yang beriman dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Jika dapat mengamalkan keduanya, maka bereslah semua urusan. Sehingga seorang mu’min itu tidak pernah merasa tertekan dengan masalah dan terlalu senang jika mendapat sesuatu.
Jika keduanya sudah bermukim dalam hati kita, insya Allah, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan surga bagi kita, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.”[11]
Kita Hanya “Singgah” Lalu “Pulang” Kembali
Saudaraku seiman, pada hakikatnya kita hanyalah singgah di dunia yang fana ini. Kita tidak akan lama hidup dunia. Kehidupan kekal abadi hanyalah di surga sana. Oleh karena itu, bergembiralah wahai hati-hati yang bersedih.
Karena, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bersabda: “Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.”[12]
Dan tiada lain bekal kita kembali adalah hati yang bersih (bertauhid) bukanlah harta benda, prestise, dan keturunan kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (bertauhid).”[13]
Ditulis Oleh:
Abu Abdillah Ahdan Ramdani
29 Ramadhan 1432 H
_______________________
Oleh: Mohammad Iqbal Santoso
Hasil perhitungan Hisab Hakiki diperoleh data sebagai berikut:
Berdasarkan data tersebut di atas, maka walaupun di sebagian besar wilayah Indonesia saat maghrib posisi bulan sudah di atas ufuk, ketinggian bulan tersebut tidak memungkinkan untuk terlihat karena terhalang (ghumma), atau hilal belum/tidak wujud, sehingga: bulan Ramadhan 1432H digenapkan 30 hari (istikmal) dan 1 Syawwal 1432H ditetapkan Rabu, 31 Agustus 2011
Dasar Hukum Penetapan tersebut adalah:
يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ …
Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Hilal / Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji… (QS Albaqarah 189)
صُوْمُوا لِرُؤيَتِهِ وَافطِرُوا لِرُؤيَتِهِ فَاِنْ غُبِّيَ عَلَيكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلآثِينَ – متفق عليه
Berpuasalah bila kalian melihatnya (hilal) dan ahirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (Bukhori 1776)
صُوْمُوا لِرُؤيَتِهِ وَافطِرُوا لِرُؤيَتِهِ فَاِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُم فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلآثِينَ – رواه مسلم)
bila kalian melihatnya (hilal) dan ahirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka tetapkanlah (shaum) 30 hari. (Muslim 1796)
لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ
Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang sempurnakanlah jumlahnya menjadi tiga puluh. (HR Bukhori 1774)
اِذَا رَأيْتُمُ الـهِلاَلَ فَصُوْمُوا واِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَاِن غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا – رواه مسلم)
Apabila kalian melihat hilal, maka shaumlah dan jika kalian melihat hilal (kembali) maka ahirilah shaum. Tetapi jika terhalang (sehingga hilal tidak terlihat) shaumlah 30 hari (Muslim 1808)
Istinbat dari dalil-dalil diatas adalah:
Berdasarkan penelitian astronomis bulan disebut hilal atau dapat diamati sebagai hilal jika saat maghrib:
Garut, 17 Ramadhan 1432H (17 Agustus 2011M)
read more