Liputan Radio Belanda (RNW) tentang Pesantren Persis Tarogong Garut

/ Comments

Pesantren kadang identik sebagai sarang kekerasan atau tempat anak nakal. Gambaran itu dicoba diperbaiki di Pondok Pesantren Persis Tarogong, di Garut, Jawa Barat. Mereka kini menerapkan konsep pesantren ramah anak. Seperti apa konsep ini dijalankan dan bagaimana hasilnya? Reporter KBR68H Sutami datang ke Garut, mengunjungi pesantren ini untuk Anda.

–> [klik link berikut untuk mendengarkan rekaman]
Liputan Radio Belanda tentang Pesantren Persis Tarogong Garut

Berdiri di atas lahan seluas 3 hektar, Pesantren Persis Tarogong menampung sekitar 2700 santri putra dan putri dari berbagai tingkatan. 500 diantaranya mondok atau tinggal di asrama pesantren.

Drop out

Muhammad Iqbal Santoso, pemimpin Ponpes Persis Tarogong, bercerita soal awal mula penerapan konsep ramah anak di pesantren. “Tingkat drop out anak-anak pesantren juga tinggi. Artinya, kalau yang masuk 100 awal tahun, kalau SMP kelas 3 nya tinggal 60-70. Artinya ada 30-40 persen anak-anak yang putus di jalan. Ada sesuatu yang salah di sini, terutama yang mondok atau yang di asrama. ”

Salah satu penyebab tingginya drop out: hukuman fisik. Muhammad Nur Ahsan pernah mengalaminya. Saat itu, ia di tingkat tsanawiyah alias SMP. Ahsan baru saja lulus tingkat Mu’allimin, setara SMA. “Nah kita melakukan kesalahan, kita disuruh ke depan semua. Ada yang ringan-ringan push up, paling berat sampai dipukul. Ada di kaki, kadang di tangan, paling parah itu di wajah. Kalau di wajah itu biasanya anak-anak yang sudah bandel-bandel banget.”

Tradisi

Hukuman fisik di pesantren ini dulu terasa jamak. Saat menjadi santri, Iqbal Santoso, pemimpin ponpes Persis Tarogong, juga merasakannya. Ia pernah dipukul dengan rotan oleh sang kyai dan ditempeleng oleh ustad atau guru. “Dulu saya ditempeleng, lapor ke orang tua ditambah lagi sama bapak. Malu-maluin kamu.. begitu sama orang tua. Sekarang gak berani guru nempeleng.”

Hak menghukum juga ada di santri senior, yang diberi tanggung jawab untuk mengasuh santri junior. Model pengasuhan macam ini lantas diwariskan kepada junior mereka. Iqbal Santoso, pemimpin ponpes Persis Tarogong.”Karena itu sebetulnya dampak dari senior sebelumnya. Karena dulu ketika dia junior begitu. Maka ketika dia senior ingin balas dendam. Sama ketika dulu di perguruan tinggi ada plonco gitu. Tetapi sedikit-sedikit itu mulai dihilangkan.”

Metode baru

Bosan dengan kekerasan yang tak berkesudahan, sejak tiga tahun lalu Iqbal Santoso menghapus jenis hukuman ini. Iqbal mengadopsi pola pendidikan ramah anak yang dikenalkan lembaga PBB untuk masalah anak UNICEF dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI.

Di program ini tak ada lagi hukuman fisik, kata Asrorun Ni’am Sholeh, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI.  “Nah bagaimana mengarahkan hukuman atau punishment yang bersifat fisik itu, kepada punishment yang lebih human dan lebih bersifat edukatif. Inikan bagian dari menciptakan situasi kondusif bagi proses pembelajaran dan juga pendidikan di pesantren.”

Kondusif, berarti santri nyaman belajar, tak lagi dibayangi ketakutan kena hukuman fisik. Tiga tahun terakhir, Pesantren Persis Tarogong, tak lagi menerapkan hukuman fisik. Sebagai gantinya, mereka pakai sistem poin. Muhammad Fauzi Rabbani, siswa kelas 2 Mualimin, setara 2 SMA.”Kesiangan satu kali, point-nya ada. Nanti kalau udah tiga kali, point-nya udah bertambah, diakumulasikan baru dipanggil orang tuanya. Jadi mendidiknya begitu, gak cara fisik lah.”

Cara ini bagi Fauzi lebih baik dibandingkan hukuman fisik. “Masih banyak kan sekolah lain kalau kesiangan gurunya langsung marah. Langsung disetrap di depan kelas. Kalau disetrap di depan kelas, disuruh angkat kaki. Otomatis si anak itu yang disetrap kan jadi malu, nanti dia jadi cenderungnya pemalu, gak punya pendirian, gak pede lah.”

Kontrak belajar

Tak cuma santri yang menikmati sistem baru ini. Guru pun senang, kata Dadang Ermawan pengajar Fiqih Syariah. Agar sama-sama enak, di awal tahun dibuat kontrak belajar bersama antara guru dan murid.

“Untuk lebih efektif pembelajaran ini harus ada kesepakatan bersama. Kalau ini bagaimana, kalau itu bagaimana. Tetapi kesepakatan itu bukan ditekankan oleh saya pribadi. Kita tawarkan kepada anak-anak. Misalnya begini. Bagaimana kalau saya lupa bawa buku, berapa jatah waktu tidak boleh masuknya? Kita sampaikan kepada anak-anak, kira-kira menurut kamu berapa kali? Dan harus tanggung jawab. Bagaimana kalau tiga kali? Sepakat? Sepakat ya sudah selesai. Jadi bukan kita yang mengatakan harus tiga kali, kalau tidak tiga kali gini-gini.’

Secara akademis, tingkat drop-out atau putus sekolah juga menurun, kata Pimpinan Ponpes Persis, Tarogong, Muhamad Iqbal Santoso bangga. Jumlah dan kualitas lulusan yang meningkat, menjadikan citra pesantren menjadi baik. Setidaknya untuk Pesantren Persis Tarogong.

 

Sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pesantren-ramah-anak-di-garut

Comments

  1. dede tajul aripin says:

    bismillah leres kedah kitu di pesantren persis kapayuna kedah nyontoh ka tarogong abdi alumni persis satuju pisan,,,


Berita Pesantren Terbaru

Berita Sebelumnya...

Artikel Islam Terbaru

Artikel Sebelumnya...

persistarogonglogo lite

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut
Jalan Terusan Pembangunan No 1 Rancabogo Tarogong Kidul Garut 44151
Tel/Fax: (0262) 234657, 540453 Email: info@persistarogong.com