Sunnahnya Menikah di Bulan Syawwal

/ Comments

Ditulis Oleh: Ahdan Ramdani[1]

 

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu, dan kita telah memasuki bulan syawwal. Bulan dimana terdapat beberapa amalan sunnah didalamnya. Diantara amalan sunnah di bulan syawwal adalah shaum enam hari di bulan syawwal yang pahalanya senilai dengan kita shaum selama setahun penuh, hal ini berdasarkan hadits dari Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[2]

Shaum syawwal paling afdhol (utama) dilakukan secara berturut-turut setelah hari Idul Fitri yakni pada tanggal 2 syawwal jika memang tidak ada udzur. Namun, jika memang ada halangan, tidak mengapa tidak berurutan juga. Ini adalah pendapat yang disandarkan kepada madzhab Imam Asy-Syafi’i. Dalam masalah ini, Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata:

“Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol melakukan shaum syawwal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawwal setelah sebelumnya melakukan puasa ramadhan.”[3]

Selain sunnahnya shaum syawwal, ada juga amalan sunnah lain yang dapat Antum lakukan di bulan syawwal. Salah satunya adalah menikah di bulan syawwal. Hal ini merupakan amalan sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pada kala itu beliau menikahi Aisyah radhiallahu ‘anhu.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan syawwal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?” Salah seorang perawi mengatakan, “Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan syawwal.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan amalan sunnah ini untuk membantah kebiasaan orang Arab yang menganggap sial jika ada diantara mereka yang menikah diantara dua hari raya[5]. Oleh karena itu Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan amalan sunnah ini untuk menyelisihi pemahaman orang Arab jahiliyyah kala itu. Hal ini diperkuat oleh pendapat Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, berkata: “Berkumpulnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (menikah) dengan Aisyah radhiallahu ‘anha pada bulan syawwal merupakan bantahan terhadap keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah dengan isteri mereka di antara dua hari raya, karena khawatir bakal terjadi perceraian antara suami-isteri tersebut, yang hal ini sebenarnya tidak ada sesuatupun padanya.”[6]

Imam An-Nawawi rahimahullah juga berkata: “Hadits itu menunjukkan bahwa disunnahkan menikahi, memperistri wanita dan menggauli pada bulan syawwal dan sahabat-sahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits tersebut. Aisyah sengaja berkata seperti tersebut diatas untuk membantah tradisi orang-orang jahiliyyah dan apa yang dikhayalkan sebagian orang awam pada saat ini, berupa ketidak sukaan mereka menikah dan berkumpul pada bulan syawwal. Dan hal ini adalah batil dan tidak ada dasarnya, dan termasuk peninggalan jahiliyyah dimana mereka meramalkan hal tersebut dari kata syawwala yang artinya mengangkat ekor ( tidak mau dikawin).”[7]

Padahal dalam Islam, anggapan-anggapan sial itu adalah termasuk perbuatan syirik. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ramalan nasib adalah syirik.”[8]

Ini juga sekaligus anjuran bagi Antum yang belum menikah dan mampu, semoga dapat disegerakan. Karena menikah dapat menyalurkan syahwat dan cinta secara halal yang sesuai syariat. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu sekalian yang mampu menikah maka menikahlah karena ia lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah puasa, sebab ia bisa menjadi obat.”[9]

Oleh karena itu, berbahagialah bagi Antum yang dapat (segera) melaksanakan kedua amalan sunnah ini. Semoga pernikahan kalian diberkahi. Amin.

 

[ Ditulis khusus untuk pernikahan dua adik kelas kami  (di pesantren Persis) yang sedang berbahagia, yakni Akhi Nurul Hadi Manan dan Ukhti Evi Siti Fauziyyah, kami ucapkan Barokallahu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a baynakuma fil khoer ]

 

 

Ahdan Ramdani (Abu Abdillah Al-Atsari)

7 Syawwal 1432 H / 6 Agustus 2011

 

 

 

____________________

[1] Alumnus Ma’had Persatuan Islam Tarogong Garut

[2] Hadits Riwayat Imam Muslim

[3] Kitab Syarah Shahih Muslim: VIII/56

[4] Hadits Riwayat Imam Muslim: II/1039

[5] Yakni, menikah antara hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha

[6] Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah: III/235

[7] Syarah shahih Muslim karya Imam an Nawawi (IX/209).

[8] Hadits Riwayat Imam Ahmad: I/440

[9] Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

Comments

  1. Resty says:

    Ych mudah2n pernikahanq d bulan syawal nanti menjdi berkah,sllu d lindungi oleh ALLH SWT,amien,


Berita Pesantren Terbaru

Berita Sebelumnya...

Artikel Islam Terbaru

Artikel Sebelumnya...

Mahabbah
Kasih Sayang

dasar kepercayaan akan persamaan dan keinginan baik untuk mewujudkannya

Tawadhu
Rendah Hati

sikap mensyukuri terhadap
apa yang telah diberikan
oleh Sang Maha Perkasa

Taawun
Kerja Sama

saling tolong-menolong
akan membuat
kekuatan tak terkalahkan

Amanah
Kejujuran

mengembangkan
keseimbangan antara
hak dan kewajiban

Mujahadah
Kesungguhan

menundukkan nafsu guna memenuhi kewajiban Allah dan menjauhi laranganNya


persistarogonglogo lite

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut
Jalan Terusan Pembangunan No 1 Rancabogo Tarogong Kidul Garut 44151
Tel/Fax: (0262) 234657, 540453 Email: info@persistarogong.com