Beberapa Hal yang Boleh dilakukan Ketika Puasa

/ Comments

Ditulis Oleh: Ahdan Ramdani

 

Diposting di Website:  http://www.persistarogong.com/

 

Setelah mengetahui betapa pentingnya tamassuk (berpegang teguh) kepada sunnah, dan mengetahui beberapa bid’ah yang terjadi pada bulan Ramadhan, selanjutnya pembahasan kita kali ini adalah beberapa hal yang diperbolehkan untuk dilakukan ketika seseorang sedang berpuasa. Beberapa hal yang diperbolehkan ketika kita puasa, diantaranya:

 

1. Mencicipi Makanan

 

Perkara pertama yaitu mencicipi makanan ketika seseorang sedang memasak. Kadang seorang istri yang berkewajiban melayani suami dan anaknya diharuskan untuk membuat suatu masakan. Namun terkadang kebanyakan dari ibu-ibu tidak berani untuk mencicipi makanan, karena dianggap dapat membatalkan puasa. Hal ini adalah keliru, karena ada atsar dari sahabat yang memperbolehkan untuk mencicipi makanan, tentunya dengan syarat hanya untuk menilai rasa dari suatu masakan, agar hasil masakan tidak gagal.

 

Abdullah Bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Tidak mengapa baginya untuk mencicipi cuka atau sesuatu (makanan) selama tidak masuk kedalam kerongkongannya, dan dia dalam keadaan berpuasa.”[1]

 

2. Mencium Istri Tanpa Syahwat

 

Perbuatan yang diperbolehkan dalam syaria’t ketika kita sedang melaksanakan puasa selanjutnya yakni mencium istri dengan syarat tanpa syahwat dan bisa menjaga diri agar tidak berjima’. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

 

‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: “Adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mencium istrinya dalam keadaan berpuasa dan menyentuh (tanpa hubungan intim) dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menguasai diri (hajat) nya.”[2]

 

3. Disuntik untuk Keperluan Berobat

 

Hal ini memang diperselisihkan dikalangan para ulama’, namun insya Allah yang rajih (lebih kuat) hal ini diperbolehkan dengan syarat bahwa suntikan itu merupakan suntikan untuk pengobatan bukan pemberian asupan makanan atau nutrisi bagi tubuh.[3] Dan hal ini juga diperkuat dengan fatwa Lajnah Daimah (komite fatwa) Saudi Arabia.

 

Boleh berobat dengan disuntik di lengan atau urat, bagi orang yang puasa di siang hari Ramadan. Namun, orang yang sedang berpuasa tidak boleh diberi suntikan nutrisi (infus) di siang hari Ramadan karena ini sama saja dengan makan atau minum. Oleh sebab itu, pemberian suntikan infus disamakan dengan pembatal puasa Ramadan. Kemudian, jika memungkinkan untuk melakukan suntik lengan atau pembuluh darah di malam hari maka itu lebih baik.”[4]

 

4. Melanjutkan Puasa Setelah Tidak Sengaja Muntah

 

Pembaca rahimakumullah, kadang kondisi kesehatan seseorang itu tidak dapat dipastikan kapan dia sehat dan kapan dia sakit. Maka ketika seseorang itu sedang sakit tetapi tidak terlalu parah dan dia ingin puasa, tetapi di pagi, tengah hari atau menjelang buka puasa secara tidak sengaja seseorang itu muntah maka hal ini tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan hadits Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam yang diterima dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

 

“Barangsiapa yang muntah dengan sengaja hendaklah dia meng-qadha’ dan barangsiapa yang muntah tidak dengan sengaja, maka tidak ada qadha’ baginya.”[5]

 

5. Menelan Ludah

 

Diantara perkara lain yang diperbolehkan syari’at ketika seseorang berpuasa yaitu menelan ludah. Namun perlu diperhatikan, para pembaca rahimakumullah, ada perbedaan kondisi ketika menelan ludah dan menelan dahak, hal ini pernah ditanyakan kepada Lajnah Daimah Saudi Arabia. Kemudian mereka memfatwakan:

 

“Menelan ludah tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan ketika di masjid dan tempat-tempat lainnya. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi diludahkan.”[6]

 

Mengenai perkara ini, Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yang merupakan ulama’ Ahlus Sunnah yang juga merupakan seorang mufti di Saudi Arabia memberikan penjelasan antara menelan ludah dan menelan dahak, yakni perbedaan hukum antara keduanya. Ketika beliau rahimahullah ditanya mengenai bolehkah menelan dahak, beliau memberikan fatwa:

 

“Tidak boleh menelan dahak, baik bagi yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa, karena dahak adalah benda kotor. Bahkan, bisa jadi membawa penyakit hasil metabolisme tubuh. Akan tetapi, menelan dahak (secara tidak sengaja) tidak membatalkan puasa, selama belum diludahkan. Menelan dahak juga tidak bisa dinamakan makan maupun minum. Jika ada orang yang menelannya, padahal dahak sudah berada di mulut, hal ini pun tidak membatalkan puasanya.”[7]

 

Demikianlah beberapa uraian singkat mengenai hal-hal yang bersifat mubah yang dilakukan di bulan Ramadhan, semoga pembahasan kita kali ini bisa bermanfaat.

 

Shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin shallahu ‘alahi wa salam.

Wallahu ‘alam bishawab.

Ahdan Ramdani (Abu Abdillah Al-Atsary)

8 Ramadhan 1432 H / 8 Agustus 2011

 

 

_____________________________

 

[1] Kitab Fathul Bari: IV/154

[2] Hadits Riwayat Imam Bukhari: IV/131 dan Riwayat Imam Muslim: 1106

[3] Http://muslimah.or.id/kesehatan-muslimah/jika-harus-minum-obat-ketika-puasa.html

[4] Fatwa Lajnah Daimah: X/252

[5] Hadits Riwayat Imam Abu Daud

[6] Fatwa Lajnah Daimah: X/270

[7] Kitab Syarhul Mumti’: VI/428

By: Ahdan Ramdani


Berita Pesantren Terbaru

Berita Sebelumnya...

Artikel Islam Terbaru

Artikel Sebelumnya...

Mahabbah
Kasih Sayang

dasar kepercayaan akan persamaan dan keinginan baik untuk mewujudkannya

Tawadhu
Rendah Hati

sikap mensyukuri terhadap
apa yang telah diberikan
oleh Sang Maha Perkasa

Taawun
Kerja Sama

saling tolong-menolong
akan membuat
kekuatan tak terkalahkan

Amanah
Kejujuran

mengembangkan
keseimbangan antara
hak dan kewajiban

Mujahadah
Kesungguhan

menundukkan nafsu guna memenuhi kewajiban Allah dan menjauhi laranganNya


persistarogonglogo lite

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut
Jalan Terusan Pembangunan No 1 Rancabogo Tarogong Kidul Garut 44151
Tel/Fax: (0262) 234657, 540453 Email: info@persistarogong.com