Beberapa Amalan Bid’ah di Bulan Ramadhan

/ Comments

 

Ditulis Oleh: Ahdan Ramdani

 

Dalam menyambut bulan Ramadhan kali ini, ada beberapa hal yang mesti kita ketahui berkenaan aktivitas ibadah yang akan kita lakukan. Sebagai kaum muslimin yang mencintai sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, kita wajib mengetahui mana saja ibadah yang sesuai sunnah dan ibadah apa saja yang menyelisihi sunnah. Karena Ibadah itu haruslah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan hal itu juga menjadi sebab diterimanya sebuah amal. Sebelum kita bahas lebih lanjut, terlebih dulu kita ketahui dua syarat diterimanya suatu ibadah.

 

Dua Syarat Diterimanya Suatu Ibadah

 

Ibadah diterima dengan dua syarat,

 

1.      Pertama, ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala

2.      Kedua, sesuai dengan sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam

 

Mengenai rasa ikhlas, Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

 

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya (ikhlas), maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju.”[1]

 

Mengenai diharuskannya ittiba’ (mengikuti sunnah) dan larangan ibtida’ (menyelisihi sunnah), Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda:

 

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru (bid’ah) dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[2]

 

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[3]

 

Saya berkata: Dua hadits diatas, yang pertama hadits yang diterima dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang merupakan peringatan keras dari Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada orang yang membuat amalan bid’ah, dia sengaja membuat amalan-amalan baru, dengan maksud untuk diikuti orang ataupun tidak. Sedangkan hadits kedua merupakan ancaman bagi orang yang mencontoh dan mengamalkan bid’ah yang tidak dibuat olehnya, dengan kata lain, orang tersebut hanyalah ikut-ikutan mengamalkan. Ini memberi kita pemahaman bahwa baik orang yang mempelopori bid’ah dan orang yang mengikuti bid’ah tetap saja diperingatkan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaih wa salam bahwa amalan mereka mardud (tertolak).

 

Mengenai jeleknya berbuat bid’ah juga pernah diucapkan oleh salah seorang sahabat, yakni Abdullah Bin Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

 

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.[4]

 

Dua syarat diterimanya ibadah diatas juga telah dijelaskan oleh para ‘ulama salafush shalih, diantaranya:

 

Imam Fudhail Bin Iyadh rahimahullah, beliau berkata: “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa salam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab (sesuai sunnah). Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila sesuai dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.”[5]

 

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, beliau berkata: “Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak.”[6]

 

Beberapa Amalan Bid’ah di Bulan Ramadhan

 

Diantara beberapa bid’ah yang dianggap sunnah oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia saat ini, yaitu:

 

1.      Sengaja Membangunkan Orang Sahur dengan Teriakan atau Nyanyian

 

Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak: “Sahur… Sahur…”. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.


Di Mesir, para muadzin menyerukan lewat menara masjid: “Sahur… Sahur… Makan… Minum…”, kemudian mereka membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala:


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berspuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”[7]


Di negeri Syam (Yordania, Palestina) lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.


Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak: “Sahur… Sahur…” Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon atau meriam bambu, dan lain sebagainya. Semua itu adalah perbuatan bid’ah.

 

Syaikh Abdul Qodir Al-Jazairi rahimahullah, beliau berkata: “Apa yang dilakukan oleh sebagian orang jahil (bodoh) pada zaman sekarang di negeri kita (Al-Jazair, termasuk juga di Indonesia, ed) berupa membangunkan orang puasa dengan kentongan merupakan kebid’ahan dan kemungkaran yang seharusnya dilarang dan diingatkan oleh orang-orang yang berilmu.”[8]

 

2.      Imsak

 

Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh sebagai masyarakat kita yang kurang mengenal sunnah yang shahih. Mereka menganggap bahwa ketika ada bunyi atau teriakan imsak, maka semuanya harus berhenti makan dan minum. Bahkan lebih parah lagi jika ada yang menganggap jika setelah imsak masih makan atau minum, maka puasanya batal. Hal ini adalah sebuah kekeliruan, karena perbuatan yang benar yaitu berhenti sekitar (lama waktunya) ketika dibacakan 50 ayat dari Al-Qur’an.

 

Sahabat Anas meriwayatkan dari Zaid bin Sabit radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

 

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kemudian beliau shalat. Maka kata Anas, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.”[9]

 

3.      Melafadzkan Niat Puasa

 

Hal ini adalah perbuatan bid’ah, yang kebanyakan masyarakat kita melafadzkan niat: “Nawaitu shauma ghadin, dst…” Niat yang benar ketika akan puasa ramadhan yaitu meniatkan pada malam sebelumnya tanpa dilafadzkan, karena niat itu tempatnya di hati, bukan di bibir.

 

Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah: “Tak seorangpun dari imam yang empat, baik Imam Syafi’i rahimahullah maupun lainnya yang mensyaratkan harus melafadzkan niat, karena niat itu di dalam hati dengan kesepakatan mereka.”[10]

 

4.      Menunda adzan maghrib dengan niat untuk kehati-hatian

 

Hal ini bertolak belakang dan menyelisihi sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

 

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[11]

 

Penutup dan Kesimpulan

 

Demikianlah pembahasan kita kali ini, mungkin hanya empat jenis bid’ah saja yang dijelaskan disini, walaupun bid’ah-bid’ah lainnya yang tersebar dikalangan masyarakat sungguh banyak sekali. Insya Allah dilanjutkan pada pembahasan selanjutnya. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, dan semoga amalan kita bisa berbekal dengan keikhlasan dan ilmu tentang sunnah yang dapat menjadikan kita nikmat dalam menegakkan sunnah dan juga termasuk orang-orang yang diampuni dosa-dosanya setelah menjalani bulan Ramadhan kali ini.

Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”[12]

 

Wallahu ‘alam bis shawab.

Penulis: Ahdan Ramdani (Abu Abdillah Al-Atsary)

29 Sya’ban 1432 H / 31 Juli 2011 M


[1] Hadits Riwayat Imam Bukhari: 6689 dan Imam Muslim: 1907

[2] Hadits Riwayat Imam Bukhari: 20 dan Imam Muslim: 1718

[3] Hadits Riwayat Imam Muslim: 1718

[4] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Battoh dalam Kitab Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah: II/212/2 dan Imam Al-Lalika’i dalam Kitab As Sunnah: I/21/1 secara mauquf (sampai pada sahabat) dengan sanad yang shahih (dapat diterima)

[5] Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam

[6] Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam

[7] Q.S. Al-Baqarah [2]: 183

[8] Kitab Shofwah Al-Bayan fii Ahkam Al-Adzan wa Al-Iqomah: 115-116

[9] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih  (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)

[10] Kitab Al-Ittiba’: 62

[11] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)

[12] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)

By: Ahdan Ramdani

Comments

  1. nda says:

    semoga catatan ini
    dapat memberikan pencerahan dan lebih kehati hatian dalam menjalankan ibadah kita….
    amien

  2. Tazkia says:

    Subhanallah….semoga bermanfaat bagi kita semua….Amin…

  3. alex says:

    @eni> bid’ah yg dimaksud disini itu lebih ke ibadah kepada allah bukan urusan muamalah karena urusan muamalah Rasulullullah menyerahkannya kepada kita (urusan dunia kalian lebih tahu)


Berita Pesantren Terbaru

Berita Sebelumnya...

Artikel Islam Terbaru

Artikel Sebelumnya...

Mahabbah
Kasih Sayang

dasar kepercayaan akan persamaan dan keinginan baik untuk mewujudkannya

Tawadhu
Rendah Hati

sikap mensyukuri terhadap
apa yang telah diberikan
oleh Sang Maha Perkasa

Taawun
Kerja Sama

saling tolong-menolong
akan membuat
kekuatan tak terkalahkan

Amanah
Kejujuran

mengembangkan
keseimbangan antara
hak dan kewajiban

Mujahadah
Kesungguhan

menundukkan nafsu guna memenuhi kewajiban Allah dan menjauhi laranganNya


persistarogonglogo lite

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut
Jalan Terusan Pembangunan No 1 Rancabogo Tarogong Kidul Garut 44151
Tel/Fax: (0262) 234657, 540453 Email: info@persistarogong.com