Kewajiban Berpegang Teguh Kepada Sunnah

/ Comments


Oleh: Ahdan Ramdani

 

Banyak diantara kaum muslimin yang memiliki keyakinan bahwa mereka berada diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan memang kaum muslimin dari jaman dahulu hingga sekarang tidak ada perselisihan dalam berpegang teguh kepada kedua hal tersebut[1], kecuali hanya beberapa firqoh (golongan) diantara mereka saja. Namun kadang mereka kurang memahami makna dari sunnah itu sendiri. Kadang sunnah hanya diartikan dalam masalah fiqih saja, yang berarti dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa, dan hal ini adalah keliru.

 

Pengertian Tentang Kata “As-Sunnah”

 

Sunnah secara bahasa adalah “Thoriqoh atau jalan, baik itu jalan yang baik maupun jalan yang buruk”[2], sedangkan menurut syari’at yaitu: “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa salam dalam bentuk ucapan, perbuatan, penetapan, sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyariatan) bagi ummat Islam.”[3]

 

Makna Kata “As-Sunnah” Menurut Salafush Shalih

 

Para Salafush Shalih memberi makna As-Sunnah dengan agama dan syari’at yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam secara mutlak dalam masalah ilmu dan amal, dan apa-apa yang diterima oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para salafush shalih dalam bidang aqidah maupun furu’ (cabang).[4]

 

Disinilah letak perbedaaan pengertian yang diambil dari para salafush shalih dengan para fuqoha (ahli fiqih) pada saat sekarang yang pemahaman yang keliru ini sudah menyebar di masyarakat. Dan yang benar, sunnah itu tidak hanya dibatasi hanya sekadar fiqih ‘ibadah saja, namun dalam hal aqidah, akhlak, manhaj, siyasah, tarbiyah, dll. Para salafush shalih meyakini bahwa sunnah adalah jalan yang terang dan jelas yang pernah dicontohkan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam secara keseluruhan dalam syari’at Islam, dan inilah yang dimaksud dengan sunnah yang sebenarnya. Karena Islam itu sendiri merupakan sunnah, dan sunnah juga merupakan Islam.

 

Imam Al-Barbahari rahimahullah, beliau berkata: “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.[5]

 

Kewajiban Mengikuti “As-Sunnah” dan Hanya Sedikit Orang yang Mengamalkannya

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Apa-apa yang datang dari Rasul, kamu ambil dan apa-apa yang dilarang kamu tinggalkan …” (Q.S. Al Hasyr: 7)

 

Suatu anugerah yang luar biasa jika kita mengamalkan sunnah yang nantinya menjadi contoh yang dikerjakan oleh orang lain karena hal itu merupakan investasi pahala yang nilainya terus bertambah. Terlebih lagi sunnah-sunnah yang sudah dilupakan oleh manusia, maka hal itu akan mendapat keutamaan yang lebih besar lagi.

 

Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.”[6]

 

Asy-Syaikh Muhammad bih Shaleh Al-’Utsaimin rahimahullah, berkata: “Sesungguhnya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah dikalangan manusia.”[7]

 

Pada akhir jaman nanti juga hanya sedikit dan segelintir orang saja yang benar-benar mengamalkan sunnah. Karena pada jaman itu orang yang benar-benar mengamalkan sunnah akan dicela, dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) akan diikuti. Dan sunnah itu dirusak justru oleh orang Islam sendiri.

 

Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam: “Sesungguhnya agama (Islam) muncul dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka keberuntungan bagi orang-orang yang asing. Ditanyakan kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa salam: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sekelompok orang yang sedikit, yang berada di kalangan orang yang banyak. Mereka memperbaiki Sunnah-ku yang telah dirusak oleh orang.”[8]

 

Apakah memang berat mengamalkan sunnah? Ya memang berat, namun hal itu akan tetap dipikul oleh seorang Ahlus Sunnah yang sejati. Walaupun demikian, dalam mengamalkan sunnah itu disesuaikan juga dengan kadar kemampuan seseorang, walau yang dikerjakan hanyalah sunnah yang sifatnya sederhana tetapi dilakukan secara istiqomah. Dan itu lebih mulia daripada bersusah payah melakukan bid’ah.

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sederhana dalam (mengamalkan) sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.”[9]

 

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar (sunnah) serta jauhilah bid’ah.

 

Keteladanan Semangat Para Salafush Shalih dalam Menegakkan Sunnah

 

Kita harus benar-benar mencontoh keteladanan para salafush shalih yang mereka benar-benar mengamalkan sunnah dengan sangat teguh, sampai-sampai imam Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri dalam ucapannya yang terkenal pernah berkata, “Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan (mencontoh) sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam) maka lakukanlah!”[10]

 

Demikian pula ucapan Al-Imam ‘Amr bin Qais Al Mula’i, “Kalau sampai kepadamu suatu kebaikan (dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka amalkanlah, meskipun hanya sekali, supaya kamu termasuk orang-orang yang mengerjakannya”[11]

 

Bahkan para ulama Ahlus sunnah, jika mereka mendapati satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang belum mereka ketahui dan amalkan sebelumnya, maka mereka menganggap itu adalah sebuah kerugian dan musibah besar yang menimpa mereka. Sebagaimana yang terjadi pada imam Ahmad bin Hambal, ketika dia mendengar satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang belum sampai kepada beliau sebelumnya, beliau mengatakan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (zikir yang diucapkan ketika ditimpa musibah), satu sunnah dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sampai kepadaku (sebelum ini)?”[12]

 

Lalu, Siapakah Ahlus Sunnah Itu?

1.    Mereka adalah kaum minoritas (sedikit) di tengah-tengah masyarakat jelek yang mayoritas (banyak).[13]

2.    Berpemahaman dengan pemahaman para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam beragama.[14]

3.    Mereka mendahulukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas semua perkataan orang, siapa pun dia.[15]

4.    Mereka tidak mau diikat dengan perjanjian apa pun kecuali perjanjian yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ambil atas mereka dalam kitab-Nya.[16]

5.    Tidak memberontak kepada pemerintah yang sah.[17]

6.    Cinta dan benci mereka hanya didasari karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena golongan atau tokoh.[18]

7.    Mereka meyakini hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi; “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.[19]

 

Beberapa Faedah Mengikuti Sunnah

Diantara faedah (manfaat) mengikuti sunnah Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam, adalah:

 

1.      Mendapatkan Rahmat dan Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21)

 

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai  “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta’ala.”[20]

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat.” (Q.S. Ali ‘Imran: 132)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat hidayah/petunjuk.” (Q.S. An-Nur: 54)

 

2.      Sebagai Bukti Cinta Seorang Mu’min Kepada Allah dan Rasulallah

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk) ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran: 31)

 

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.”[21]

 

Al-Qadhi Fudhail Bin Iyadh rahimahullah juga menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”[22]

 

3.      Tegas dan Jujur dalam Menilai Perbuatan Apakah Itu Sunnah Ataukah Bid’ah, dan Halal Ataukah Haram

 

Diantara faedah lain, bagi seorang Ahlus Sunnah yang benar-benar mengamalkan agamanya dengan benar dan sudah terbiasa mengamalkan sunnah, akan berani dengan tegas dan jujur untuk berkata, yakni mengatakan apa-apa saja yang memang diperintahkan oleh Allah Ta’ala ataupun yang dilarang oleh-Nya.

 

Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, berkata: “Aku akan mendapati salah satu dari kalian (Seorang Ahlus Sunnah) bersandar di atas kursinya sambil berkata “Dihadapan kita ada Kitab Allah. Jika kita mendapatkan sesuatu yang halal di dalamnya, maka kita akan halalkan. Dan jika kami menemukan sesuatu yang haram, maka kami haramkan”. Ketauhilah, bahwa aku telah diberi sesuatu yang sama dengan Al Qur’an”.[23]

 

Konsekwensi Tidak Mengikuti “As-Sunnah” dan Tidak Berpegang Teguh dengannya

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukminin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. An-Nisa: 115)

 

Imam Al Qurthubi rahimahullah, berkata: “Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkan sunnah-sunnah (rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam) maka ini (menunjukkan) kekurangan (kelemahan) dalam agamanya. Apalagi kalau dia meninggalkan sunnah-sunnah tersebut karena meremehkan dan tidak menyukainya, maka ini kefasikan, karena adanya ancaman dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Barangsiapa yang membenci sunnah/petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku.”[24]

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha: 124)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (Q.S. An-Nur: 50)

 

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan-golongan orang yang disebutkan diatas, karena jika kita tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, maka kita bukanlah termasuk umat beliau shalallahu ‘alaihi wa salam yang akan diberi syafa’at di hari akhir nanti.

 

Wallahu ‘alam bis shawab.


[1] Kitab Madarikun Nadzar fi As-Siyasah: 47

[2] Kitab Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah: 65

[3] Kitab Qawaid At-Tahdits: 62

[4] Kitab Kedudukan Sunnah dalam Syari’at Islam

[5] Kitab Syarhu As-Sunnah: 59

[6] Hadits Riwayat bnu Majah: 209, pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh Al Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih sunan Ibnu Majah” (no. 173).

[7] Kitab “Manaasikul hajji wal ‘umrah”: 92

[8] Hadits Riwayat Imam Tirmidzi

[9] Kitab Al-Ibanah: I/167

[10] Kitab Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi: I/216

[11] Kitab Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi: I/219

[12] Kitab Talbiisu Ibliis: 398

[13] Hadits Riwayat Imam Ahmad :  II/177

[14] Q.S. An Nisa [4]: 115 dan Kitab Ushul As-Sunnah

[15] Q.S. An Nur [24]: 63 dan Hadits Riwayat Imam Ahmad: I/337

[16] Kitab Ad-Da’wah Ila Allah: 123-124

[17] Q.S. An Nisa [4]: 59 dan Kitab Al-Aqidah Ath Thahawiyah

[18] Hadits Riwayat Imam Ath Thabrani: III/125

[19] Hadits Riwayat Imam Abu Daud: 1462

[20] Kitab Tafsir As-Sa’di: 481

[21] Kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim: I/477

[22] Kitab Asy Syifa bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa: 2/24

[23] Hadits Riwayat Abu Daud

[24] Kitab Fathul Bari: II/236

By: Ahdan Ramdani


Berita Pesantren Terbaru

Berita Sebelumnya...

Artikel Islam Terbaru

Artikel Sebelumnya...

Mahabbah
Kasih Sayang

dasar kepercayaan akan persamaan dan keinginan baik untuk mewujudkannya

Tawadhu
Rendah Hati

sikap mensyukuri terhadap
apa yang telah diberikan
oleh Sang Maha Perkasa

Taawun
Kerja Sama

saling tolong-menolong
akan membuat
kekuatan tak terkalahkan

Amanah
Kejujuran

mengembangkan
keseimbangan antara
hak dan kewajiban

Mujahadah
Kesungguhan

menundukkan nafsu guna memenuhi kewajiban Allah dan menjauhi laranganNya


persistarogonglogo lite

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut
Jalan Terusan Pembangunan No 1 Rancabogo Tarogong Kidul Garut 44151
Tel/Fax: (0262) 234657, 540453 Email: info@persistarogong.com